Kapasitas Perawatan: Tanggung Jawab yang Sering Diabaikan di Shelter Hewan Indonesia

Oleh : Drh. Mikeu Paujiah
Di balik niat baik para pendiri shelter hewan di Indonesia, sering kali tersembunyi satu kesalahan mendasar yang berdampak panjang:
Mereka menampung terlalu banyak hewan tanpa menghitung kapasitas perawatan yang sebenarnya bisa mereka tanggung.
Dalam istilah internasional, ini disebut Determining Capacity for Care (C4C)—sebuah prinsip penting dalam manajemen shelter yang sangat sering diabaikan.

Apa itu Capacity for Care (C4C)?

Menurut ASV Guidelines for Standards of Care in Animal Shelters, capacity for care adalah:
“Jumlah maksimal hewan yang dapat dirawat secara layak di shelter berdasarkan sumber daya yang tersedia—termasuk staf, ruang, waktu, dan layanan medis—dengan tetap menjamin kesejahteraan fisik dan mental hewan.”
Bukan soal seberapa besar cinta yang kita miliki, tapi seberapa jauh kemampuan kita merawat dengan layak.

Masalah Umum di Shelter Indonesia: Niat Baik, Tapi Salah Kelola

Banyak shelter di Indonesia berdiri karena rasa iba terhadap hewan terlantar. Tapi sayangnya, banyak pemilik shelter yang:
– Menampung puluhan bahkan ratusan hewan di lahan kecil.
– Tidak memiliki tenaga medis yang cukup.
– Tidak mampu memberi makan layak setiap hari.
– Tidak melakukan vaksinasi atau sterilisasi.
– Tidak mampu menjaga kebersihan kandang secara rutin.
– Mengabaikan perilaku dan stres psikologis hewan.

Hewan-hewan yang harusnya “diselamatkan”, justru hidup dalam penelantaran sistemik yang baru.

Akibat Jika Kapasitas Tidak Dihitung:
1. Overcrowding (penumpukan hewan) → menyebarkan penyakit dengan cepat.
2. Kekurangan pakan dan air → malnutrisi dan dehidrasi.
3. Stres berkepanjangan → perilaku agresif atau apatis.
4. Tingkat kematian meningkat → terutama bayi dan hewan sakit.
5. Relawan burnout → karena jumlah hewan terlalu banyak untuk dirawat.
6. Kepercayaan publik menurun → adopsi menurun, donasi berhenti.
7. Over Budjet -> keuangan menjadi kacau, karena hewan bertambah otomatis pengeluaran bertambah.
Dan akhirnya, shelter yang seharusnya menjadi tempat harapan… berubah menjadi tempat penderitaan baru.

Kritik Konstruktif untuk Shelter di Indonesia

Penulis menghormati setiap orang yang mendirikan shelter. Itu tindakan mulia.
Tapi saat Anda terus menambah hewan tanpa batas, tanpa menghitung kapasitas,
maka Anda tidak sedang menyelamatkan. Anda sedang menciptakan masalah baru.

“Cinta harus disertai batas dan perhitungan. Kasihan tanpa manajemen = penelantaran terselubung”

Jika Anda tidak bisa menambah ruang, staf, atau dana, jangan tambahkan hewan baru dulu.
Fokuslah merawat yang ada dengan optimal, lalu bangun sistem keberlanjutan (adopsi, edukasi, steril, foster).

Jangan jadikan shelter sebagai tempat “penampungan massal” yang tidak manusiawi. Jadikan shelter sebagai tempat pemulihan bermartabat, dengan sistem yang terukur dan manusiawi.

Karena menyelamatkan satu hewan dengan baik, jauh lebih mulia daripada menampung seratus tanpa bisa merawat.

Referensi:

  1. The Association of Shelter Veterinarians (ASV). (2010). Guidelines for Standards of Care in Animal Shelters. https://www.sheltervet.org/assets/docs/shelter-standards-oct2011-wforward.pdf
  2. RSPCA Australia. (2018). Guidelines for the Operation of Animal Shelters.
    https://www.rspca.org.au