Shelter Hewan di Indonesia: Tantangan & Harapan Menuju Kesejahteraan Hewan

Oleh: drh.Mikeu Paujiah Mur

Beberapa tahun terakhir, semakin banyak masyarakat di Indonesia yang tergerak hatinya membangun shelter untuk menampung hewan-hewan terlantar. Mereka datang dari berbagai latar belakang, relawan, komunitas kecil, bahkan individu yang merasa terpanggil membantu hewan yang menderita.

Namun, dalam semangat menyelamatkan, ada satu hal yang sering luput: Apakah shelter sudah benar-benar menjamin kesejahteraan hewan atau baru sekadar menyelamatkan?

Belajar dari Penelitian: Merawat Tak Cukup, Harus Layak

Sebuah penelitian ilmiah terbaru (2021) yang diterbitkan di Journal of the South African Veterinary Association mengamati kondisi anjing milik warga di komunitas berpenghasilan rendah di Indonesia. Meskipun konteksnya bukan shelter, kondisi tersebut sangat mirip dengan banyak penampungan yang kekurangan sumber daya.

Penelitian ini mencatat bahwa:

  • Banyak anjing dibiarkan bebas tanpa pengawasan atau pagar.
  • Pemberian makan hanya sekali sehari dan dengan makanan manusia sisa.
  • Tidak ada vaksinasi atau perawatan medis.
  • Pemilik menyayangi anjingnya, tetapi tidak tahu bagaimana merawatnya dengan benar.

Hal yang sama bisa terjadi di shelter, niat baik tidak cukup tanpa edukasi dan standar operasional yang jelas.

Mengapa Ini Penting bagi Shelter?

Karena prinsip dasar shelter bukan hanya menyelamatkan hewan, tapi juga memastikan bahwa kehidupan mereka setelah diselamatkan lebih baik dari sebelumnya.

Inilah mengapa panduan operasional shelter yang berbasis animal welfare menjadi sangat penting.

Standar Kesejahteraan Shelter dari ASV Guidelines

Berdasarkan dokumen The Association of Shelter Veterinarians’ Guidelines for Standards of Care in Animal Shelters (2010), terdapat 5 pilar penting yang harus dipenuhi shelter untuk menjamin kesejahteraan hewan:

  1. Nutrisi Hewan harus menerima makanan dan air bersih yang sesuai kebutuhan spesifik mereka.
  2. Lingkungan fisik yang sesuai Termasuk ventilasi, pencahayaan, suhu, sanitasi, dan ruang gerak yang cukup.
  3. Perawatan kesehatan preventif dan terapeutik Termasuk vaksinasi, pengendalian parasit, sterilisasi, dan perawatan medis rutin.
  4. Perilaku dan stimulasi mental Penyediaan enrichment, permainan, interaksi sosial yang aman, dan kesempatan berperilaku alami.
  5. Pengendalian stres dan rasa takut Lingkungan harus dirancang untuk mengurangi stres, termasuk sistem manajemen kebisingan, jadwal tetap, dan interaksi manusia yang lembut.

ASV menekankan bahwa:

“Setiap hewan di shelter berhak mendapatkan perawatan yang mendukung kesejahteraan fisik dan psikologisnya, mulai dari saat pertama masuk hingga saat keluar.”

Rambu-Rambu Praktis bagi Shelter yang Bertanggung Jawab

  1. Jangan over-kapasitas. Lebih baik sedikit tapi terawat, daripada banyak tapi menderita.
  2. Buat SOP harian. Termasuk jadwal memberi makan, membersihkan kandang, observasi kesehatan.
  3. Sediakan ruang isolasi. Hewan baru perlu dikarantina sementara sebelum digabungkan.
  4. Catat semua riwayat kesehatan. Ini membantu saat adopsi atau perawatan lanjutan.
  5. Ajak dokter hewan atau mahasiswa kedokteran hewan untuk kolaborasi berkala.
  6. Libatkan masyarakat. Edukasi, kunjungan, adopsi terbuka, atau menjadi foster parent (penampung sementara).

Kesimpulan: Shelter = Harapan Baru

Shelter bukan hanya “tempat parkir” hewan terlantar. Ia adalah tempat pemulihan, tempat pendidikan, dan tempat menemukan harapan baru, bagi hewan maupun manusia.

Dengan menggabungkan semangat penyelamatan dan prinsip animal welfare yang benar, kita bisa memastikan bahwa misi menyelamatkan benar-benar berakhir dengan kebahagiaan, bukan sekadar perpindahan penderitaan.

Referensi: