Aku Bukan Sampah: Cerita Seekor Kucing yang Pernah Dibuang

Aku dibuang. Bukan karena aku nakal. Bukan karena aku sakit. Tapi karena aku dianggap tak penting lagi. Kardus kecil menjadi tempat terakhirku sebelum dilempar ke pinggir jalan. Orang-orang lewat, beberapa melihat, tapi tak berhenti. Aku diam. Takut. Kedinginan. Sampai seseorang berseragam bertulisan JAAN mengangkatku perlahan dan berkata, “Kamu nggak sendiri lagi.”

Dunia yang Dingin dan Asing

Sebelum shelter, hidupku selalu berpindah. Dari satu teras rumah ke warung kosong. Kadang aku kebagian sisa nasi, kadang tidak. Hujan membuatku menggigil, dan mata yang terus belekan membuat pandanganku kabur.

Aku tidak tahu kenapa dibuang. Mungkin aku tumbuh terlalu besar. Mungkin anak-anak di rumah itu sudah bosan. Tapi aku tidak pernah berhenti menunggu. Menunggu ada yang mencari. Tapi tidak ada.

Saat Tangan Itu Menyentuhku

Aku lemah saat ditemukan. Nafas pendek. Tubuh kurus. Buluku kusam dan lepek. Tapi di shelter, aku tak dihakimi. Aku dipanggil dengan suara lembut. Disisir, dibersihkan, diberi tempat tidur kecil. Makanan selalu tersedia. Tapi yang paling membuatku tenang… aku tidak sendirian.

Di Shelter, Aku Tidak Lagi Merasa Tak Diinginkan

Hari demi hari, aku mulai belajar mengeong pelan saat melihat manusia. Aku mulai berani mendekat, menggesekkan tubuhku. Aku bahkan mulai bermain. Sesuatu yang dulu sudah aku lupakan.

Ada kucing lain juga di sini. Beberapa kehilangan kaki. Beberapa punya luka dalam yang tak terlihat. Tapi kami semua punya satu kesamaan: kami ingin disayang.

Kami Tidak Rewel. Kami Hanya Pernah Terluka

Banyak yang bilang kucing rescue itu galak, sulit diatur, tidak manis. Tapi mereka tidak tahu, kami pernah kehilangan segalanya. Kepercayaan kami pada manusia runtuh. Tapi kami ingin mencoba lagi asal diberi kesempatan.

Kami tidak minta dikasihani. Kami hanya minta dilihat sebagai makhluk hidup yang juga bisa mencintai.

Jika Kamu Membaca Ini

Mungkin kamu sedang berpikir untuk memelihara kucing. Mungkin kamu terpikat oleh kucing ras di toko. Tapi sebelum itu, ingat kami yang menunggu di shelter. Kami tak punya silsilah, tapi kami punya hati.

Adopsilah. Jadilah rumah pertama kami yang tidak hanya sementara.

Kami tidak menunggu dengan marah. Kami menunggu dengan harap. Buka kandang ini, dan bawa pulang salah satu dari kami. Kami siap memberimu cinta yang tak bersyarat.

Artikel Terkait

Bangun Tanggung Jawab Anak Lewat Perawatan Hewan Peliharaan

Bangun Tanggung Jawab Anak Lewat Perawatan Hewan Peliharaan

Oleh : Drh. Mikeu Paujiah, Dipl. MontessoriMemelihara hewan bukan sekadar mengisi waktu luang. Bagi anak-anak, merawat hewan bisa menjadi sarana belajar empati, tanggung jawab, dan kasih sayang. Namun, tanpa pendampingan yang tepat dari orang tua, proses ini bisa...