(sumber gambar : https://unsplash.com/id/foto/seseorang-berjalan-dengan-anjing-putih-dengan-tali-kqLl6Ao7V4k)
Ke Mana Pun Kita Pergi, Dia Ikut
Ke dapur, ikut.
Ke ruang tamu, ikut.
Ke kamar, ikut.
Bahkan ketika kita hanya ingin mengambil sesuatu sebentar, anjing langsung bangun dan berjalan mengikuti.
Tidak sedikit pet parent yang kemudian berkata:
“Anjingku sayang banget sama aku. Ke mana-mana selalu ngikut.”
Bisa jadi memang ada hubungan sosial yang kuat antara anjing dan pemiliknya.
Tetapi, apakah setiap anjing yang selalu mengikuti pemiliknya berarti sedang menunjukkan kasih sayang?
Tidak selalu.
Perilaku mengikuti dapat memiliki berbagai alasan. Untuk memahaminya, kita perlu melihat konteks dan perilaku lain yang menyertainya.
Anjing Memang Bisa Memiliki Ikatan Kuat dengan Manusia
Hubungan antara anjing dan manusia bukan sekadar hubungan antara pemilik dan hewan peliharaan.
Penelitian mengenai hubungan anjing-manusia menunjukkan bahwa anjing dapat membentuk hubungan attachment-like dengan pemiliknya.
Dalam penelitian tentang secure base effect, kehadiran pemilik dapat memberikan rasa aman yang membuat anjing lebih mampu mengeksplorasi lingkungan dan melakukan aktivitas tertentu.
Dengan kata lain, bagi sebagian anjing:
pemilik bukan hanya sumber makanan.
Pemilik juga dapat menjadi:
- sumber rasa aman,
- partner sosial,
- tempat mencari dukungan,
- dan figur yang penting dalam lingkungan mereka.
Jadi, tidak mengherankan jika anjing sering memilih berada dekat dengan orang yang mereka percayai.
Tetapi Mengikuti Pemilik Tidak Selalu Berarti “Aku Sayang Kamu”
Bayangkan Anda sedang berada di rumah.
Anjing mengikuti Anda dari satu ruangan ke ruangan lain.
Tetapi setelah Anda berhenti, ia dengan santai berbaring di dekat Anda.
Kemudian ketika Anda pergi ke ruangan lain, ia kembali mengikuti.
Perilaku seperti ini dapat merupakan bagian dari proximity seeking, yaitu kecenderungan untuk mempertahankan kedekatan dengan figur sosial yang dianggap penting.
Namun ada situasi lain.
Anjing mengikuti Anda dengan sangat intens.
Ketika Anda masuk kamar mandi, ia menunggu di depan pintu.
Ketika Anda mengambil tas, ia langsung gelisah.
Ketika Anda bersiap keluar rumah, ia mulai menunjukkan perubahan perilaku.
Dan ketika Anda benar-benar pergi, ia mengalami masalah seperti vokalisasi berlebihan, perilaku destruktif, atau tanda distress lainnya.
Nah, ini perlu dilihat lebih serius.
Dekat dengan Pemilik ≠ Separation Anxiety
Ini salah satu kesalahpahaman yang penting.
Anjing yang suka mengikuti pemiliknya tidak otomatis mengalami separation anxiety.
Kedekatan dengan pemilik dan masalah terkait perpisahan merupakan dua hal yang berbeda.
Penelitian mengenai separation anxiety memang menemukan bahwa perilaku hyperattachment, termasuk mengikuti pemilik secara ekstrem, dapat berhubungan dengan masalah terkait perpisahan. Namun, perilaku mengikuti saja tidak cukup untuk menentukan diagnosis.
Artinya:
“Anjing saya selalu mengikuti saya” bukan berarti “anjing saya pasti separation anxiety.”
Kita perlu melihat apa yang terjadi ketika pemilik tidak ada.
Lalu Mengapa Anjing Mengikuti Kita?
Ada beberapa kemungkinan.
1. Karena Kita Adalah Figur yang Penting Baginya
Ini penjelasan yang paling sederhana.
Anjing dapat membangun hubungan yang kuat dengan manusia.
Penelitian menunjukkan bahwa anjing dapat menunjukkan perilaku seperti mempertahankan kedekatan, mencari pemilik ketika mengalami situasi tertentu, dan menggunakan pemilik sebagai sumber rasa aman.
Jadi, ketika anjing memilih berjalan mengikuti kita, salah satu kemungkinannya adalah:
“Saya ingin berada dekat dengan orang yang saya percaya.”
2. Karena Anjing Belajar bahwa Mengikuti Kita Itu Menguntungkan
Anjing juga merupakan pembelajar yang sangat baik.
Bayangkan setiap kali Anda pergi ke dapur:
“Siapa mau snack?”
Anjing datang.
Ia mendapat makanan.
Besoknya Anda pergi ke dapur.
Ia mengikuti lagi.
Lama-kelamaan terbentuk sebuah pola:
Pemilik bergerak → saya mengikuti → mungkin ada sesuatu yang menyenangkan.
Jadi, tidak semua perilaku mengikuti berkaitan dengan emosi yang kompleks.
Kadang jawabannya sangat sederhana:
“Biasanya kalau kamu ke sana, ada sesuatu yang menarik.”
3. Karena Ingin Tahu
Anjing adalah hewan yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan.
Ketika kita bangun dari kursi, membuka pintu, mengambil tas, atau berjalan ke ruangan lain, aktivitas tersebut dapat menjadi stimulus yang menarik perhatian.
Anjing mungkin berpikir:
“Kita mau ke mana?”
Ini terutama terlihat pada anjing yang memang memiliki sifat aktif dan sangat tertarik pada aktivitas manusia di sekitarnya.
4. Karena Merasa Aman Ketika Dekat dengan Pemilik
Ini merupakan aspek yang menarik dari hubungan anjing dan manusia.
Dalam penelitian secure base, anjing menunjukkan perilaku yang berbeda ketika pemilik hadir dibandingkan ketika pemilik tidak ada. Kehadiran pemilik dapat menjadi sumber keamanan yang membantu anjing berinteraksi dengan lingkungan.
Jadi, berada dekat dengan pemilik tidak selalu berarti anjing “manja”.
Bisa jadi:
kehadiran Anda membuat lingkungan terasa lebih aman baginya.
5. Karena Memang Sudah Menjadi Kebiasaan
Perilaku juga dapat terbentuk melalui rutinitas.
Jika sejak kecil anjing selalu berada dekat manusia, tidur dekat manusia, dan hampir selalu ditemani, ia mungkin terbiasa dengan pola tersebut.
Ketika pola berubah, anjing mungkin membutuhkan waktu untuk beradaptasi.
Karena itu, membangun kemampuan anjing untuk tetap nyaman ketika tidak selalu berada tepat di sebelah pemilik juga merupakan bagian penting dari pengelolaan kesejahteraan dan perilaku.
Kapan Kita Perlu Waspada?
Yang perlu diperhatikan bukan hanya:
“Apakah anjing mengikuti saya?”
Tetapi:
“Bagaimana kondisi anjing ketika saya tidak ada?”
Perhatikan apakah terdapat tanda-tanda seperti:
- sangat gelisah ketika pemilik bersiap pergi,
- vokalisasi berlebihan setelah ditinggalkan,
- mencoba keluar atau mencari pemilik secara intens,
- perilaku destruktif yang terutama muncul ketika sendirian,
- buang air yang tidak biasa ketika ditinggalkan,
- atau tanda distress lainnya.
Jika pola tersebut muncul secara konsisten dan berkaitan dengan perpisahan, konsultasi dengan dokter hewan atau profesional perilaku hewan dapat membantu menentukan penyebabnya.
Jangan Sengaja Menguji Anjing
Ada satu hal yang sebaiknya tidak dilakukan.
Jangan berpikir:
“Kalau dia memang sayang, saya akan pergi lama supaya tahu dia mencari saya atau tidak.”
Ini bukan cara yang baik untuk menguji ikatan dengan anjing.
Jika anjing memang memiliki masalah ketika ditinggalkan, membuatnya mengalami distress secara sengaja tidak akan menyelesaikan masalah.
Sebaliknya, kita perlu memahami pemicu dan membangun kemampuan anjing untuk merasa aman secara bertahap.
Bagaimana Membuat Anjing Tetap Nyaman Saat Tidak Selalu Bersama Kita?
Menjadi pet parent bukan berarti anjing harus selalu berada di samping kita selama 24 jam.
Anjing juga perlu memiliki kesempatan untuk:
- beristirahat sendiri,
- mengeksplorasi lingkungan dengan aman,
- bermain,
- melakukan aktivitas pengayaan,
- dan belajar bahwa pemilik pergi sementara bukan berarti sesuatu yang buruk akan terjadi.
Kemandirian bukan berarti mengurangi kasih sayang.
Justru kita ingin menciptakan hubungan yang membuat anjing:
dekat ketika ingin bersosialisasi,
tetapi juga
tetap mampu merasa aman ketika tidak sedang berada di samping pemilik.
Bagaimana Membedakan “Mengikuti karena Nyaman” dan “Mengikuti karena Cemas”?
| Perilaku | Kemungkinan interpretasi |
| Mengikuti pemilik tetapi kemudian santai | Bisa merupakan kedekatan sosial normal |
| Mengikuti karena ada aktivitas menarik | Rasa ingin tahu atau pembelajaran |
| Mengikuti ke dapur karena sering mendapat makanan | Perilaku yang diperkuat oleh pengalaman |
| Mengikuti tetapi tetap mampu tidur/beraktivitas sendiri | Tidak otomatis menunjukkan masalah |
| Sangat gelisah ketika pemilik bersiap pergi | Perlu diperhatikan |
| Menunjukkan distress ketika ditinggalkan | Perlu evaluasi lebih lanjut |
| Perilaku destruktif terutama ketika sendirian | Dapat berkaitan dengan masalah terkait perpisahan |
Catatan: tabel ini bukan alat diagnosis. Perilaku anjing harus dinilai berdasarkan keseluruhan konteks dan pola perilaku.
Jangan Membuat Anjing Merasa Bersalah karena “Terlalu Menempel”
Ketika anjing terus mengikuti kita, respons manusia terkadang justru:
“Aduh, kamu manja banget.”
Padahal, kedekatan dengan pemilik sendiri bukan sesuatu yang harus dianggap sebagai masalah.
Yang perlu kita tanyakan adalah:
Apakah anjing tersebut merasa aman?
Apakah ia mampu beristirahat ketika kita tidak berada di dekatnya?
Apakah ia mengalami distress ketika ditinggalkan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih informatif daripada sekadar menghitung berapa kali anjing mengikuti kita.
Dari “Dia Manja” Menjadi “Apa yang Dia Butuhkan?”
Inilah cara pandang yang ingin kita bangun sebagai pet lover.
Ketika anjing mengikuti kita, jangan buru-buru memberikan label.
Jangan langsung mengatakan:
“Dia manja.”
atau:
“Dia terlalu bergantung.”
Cobalah mengamati.
Apakah ia mencari interaksi?
Apakah ia penasaran?
Apakah ia merasa aman ketika dekat dengan kita?
Apakah perilaku tersebut diperkuat oleh kebiasaan?
Atau justru ia menunjukkan tanda kecemasan ketika kita akan pergi?
Perilaku adalah petunjuk.
Tugas kita adalah memahami petunjuk tersebut.
Kesimpulan
Jadi, mengapa anjing suka mengikuti pemiliknya ke mana-mana?
Jawabannya bisa bermacam-macam.
Anjing dapat mengikuti karena memiliki ikatan sosial yang kuat, mencari rasa aman, penasaran dengan aktivitas pemilik, mengikuti rutinitas, atau karena perilaku tersebut sebelumnya mendapatkan penguatan.
Namun, anjing yang selalu mengikuti pemilik tidak otomatis mengalami separation anxiety.
Yang lebih penting adalah melihat apakah ia mampu tetap tenang dan melakukan aktivitas normal ketika pemilik tidak berada di dekatnya.
Karena menjadi pet parent yang baik bukan tentang membuat anjing selalu menempel kepada kita.
Tetapi tentang membangun hubungan di mana anjing merasa:
“Aku aman bersamamu.”
dan pada saat yang sama:
“Aku juga aman ketika kamu tidak berada di sampingku.”
Itulah hubungan yang sehat.
Referensi
Cimarelli, G., Prato-Previde, E., Valsecchi, P., & others. (2022). Secure base effect in former shelter dogs and other family dogs: Strangers do not provide security in a problem-solving task. Frontiers in Veterinary Science, 8, 775622.
Palmer, R., et al. (2013). The importance of the secure base effect for domestic dogs: Evidence from a manipulative problem-solving task. PLOS ONE, 8(5), e65296.
Schöberl, I., Beetz, A., Solomon, J., Wedl, M., Gee, N., & Kotrschal, K. (2016). Social factors influencing cortisol and oxytocin secretion during human-dog interaction. Journal of Veterinary Behavior, 11, 1–10.
Sherman, B. L., & Mills, D. S. (2008). Canine anxieties and phobias: An update on separation anxiety and noise aversion. Veterinary Clinics of North America: Small Animal Practice, 38(5), 1081–1106.
Takeuchi, Y., Houpt, K. A., & Scarlett, J. M. (2000). Evaluation of treatments for separation anxiety in dogs. Journal of the American Veterinary Medical Association, 217(3), 342–345.
Topál, J., Miklósi, Á., Csányi, V., & Dóka, A. (1998). Attachment behavior in dogs (Canis familiaris): A new application of Ainsworth’s (1969) strange situation test. Journal of Comparative Psychology, 112(3), 219–229.