(sumber gambar : https://unsplash.com/id/foto/kucing-coklat-dewasa-Ah_QC2v2alE)
“Dia Mencium Aku!”
Ketika seekor anjing menjilat wajah pemiliknya, banyak orang langsung tersenyum.
“Dia sayang banget sama aku.”
Bahkan tidak sedikit pet parent yang menganggap jilatan anjing sebagai bentuk ciuman.
Memang, interaksi tersebut bisa menjadi bagian dari hubungan sosial yang positif antara anjing dan manusia.
Tetapi apakah setiap jilatan berarti:
“Aku sayang kamu”?
Jawabannya:
Tidak selalu.
Jilatan merupakan salah satu perilaku yang dapat memiliki berbagai fungsi. Untuk memahami maknanya, kita perlu melihat kapan anjing menjilat, apa yang terjadi sebelumnya, bagian tubuh yang dijilat, serta bahasa tubuh anjing secara keseluruhan.
Mengapa Anjing Menjilat?
Ada lebih dari satu kemungkinan.
Bagi manusia, jilatan mungkin terlihat sederhana.
Namun bagi anjing, perilaku tersebut dapat berkaitan dengan interaksi sosial, eksplorasi, komunikasi, perhatian, atau respons terhadap situasi tertentu.
Jadi, jangan buru-buru menerjemahkannya menjadi satu kalimat:
“Anjing menjilat = anjing sayang.”
1. Bisa Menjadi Bagian dari Interaksi Sosial
Anjing merupakan hewan sosial.
Kontak fisik dan berbagai bentuk perilaku sosial dapat menjadi bagian dari hubungan antara anjing dengan individu lain, termasuk manusia.
Ketika anjing mendekati pemilik dan menjilat tangan atau wajahnya dalam situasi yang santai, perilaku tersebut dapat menjadi bagian dari interaksi sosial.
Misalnya:
Anda baru pulang.
Anjing mendekat.
Tubuhnya rileks.
Ekornya bergerak dengan santai.
Ia mendekat dan menjilat tangan Anda.
Dalam konteks seperti ini, jilatan dapat menjadi bagian dari sapaan dan interaksi sosial yang positif.
Tetapi tetap tidak berarti kita dapat menerjemahkan setiap jilatan secara otomatis sebagai “ciuman”.
2. Karena Ia Mendapatkan Respons dari Kita
Ada alasan yang jauh lebih sederhana:
Anda memberikan respons setiap kali ia menjilat.
Misalnya:
Anjing menjilat tangan.
Anda tertawa.
Anda mengelus kepalanya.
Anda berbicara:
“Aduh, sayang banget!”
Bagi anjing, interaksi tersebut dapat menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Akibatnya, perilaku menjilat dapat semakin sering muncul.
Ini adalah contoh bagaimana perilaku dapat dipengaruhi oleh konsekuensi setelah perilaku tersebut terjadi.
Jadi kadang-kadang:
Anjing bukan sedang berpikir “aku ingin mencium manusia.”
Bisa jadi ia sudah belajar:
“Kalau aku melakukan ini, manusia memberikan perhatian.”
3. Karena Ingin Mendapatkan Perhatian
Pernah mengalami ini?
Anda sedang bekerja.
Anjing datang.
Ia melihat Anda.
Kemudian menjilat tangan.
Anda berhenti bekerja dan mengelusnya.
Anjing mendapatkan apa yang ia inginkan:
perhatian.
Jika pola tersebut berulang, perilaku menjilat dapat menjadi salah satu cara yang digunakan anjing untuk memulai interaksi.
Ini bukan berarti anjing sedang “memanipulasi” kita.
Ini adalah proses belajar yang normal.
4. Karena Ingin Menyampaikan Sinyal Sosial
Jilatan juga dapat muncul dalam konteks komunikasi sosial.
Pada anjing, perilaku yang tampak seperti menjilat dapat muncul bersama sinyal tubuh lain ketika mereka berada dalam situasi sosial tertentu.
Karena itu, konteks sangat penting.
Bayangkan dua situasi:
Situasi A
Anjing mendekati pemilik dengan tubuh rileks, bergerak santai, dan menjilat tangan.
Situasi B
Anjing berada dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman, tubuhnya tegang, telinga ditarik ke belakang, menghindari kontak mata, dan melakukan jilatan bibir berulang.
Keduanya sama-sama melibatkan gerakan pada area mulut.
Tetapi konteks emosionalnya bisa sangat berbeda.
Itulah mengapa membaca bahasa tubuh anjing tidak boleh hanya berdasarkan satu gerakan.
5. Karena Ada Sesuatu yang Menarik pada Kulit Kita
Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sangat mungkin terjadi.
Kulit manusia memiliki:
- aroma,
- keringat,
- sisa makanan,
- dan berbagai bau lain yang menarik bagi anjing.
Jika tangan kita baru saja memegang makanan, misalnya, anjing mungkin tertarik menjilatnya.
Jadi, tidak semua jilatan memiliki makna emosional yang mendalam.
Kadang jawabannya hanya:
“Ada sesuatu yang menarik di sini.”
Apakah Anjing Menjilat Wajah Karena Menganggap Kita Ibunya?
Ini adalah salah satu mitos yang sering muncul.
Kita kadang mendengar penjelasan bahwa anjing menjilat wajah manusia karena perilaku tersebut sama dengan perilaku anak anjing terhadap induknya.
Memang terdapat perilaku menjilat dalam interaksi sosial anjing, termasuk pada konteks anak anjing dan induknya.
Namun, kita tidak boleh langsung menyimpulkan:
anjing menjilat wajah manusia = ia menganggap manusia sebagai induknya.
Hubungan anjing-manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar menggantikan hubungan induk-anak.
Jadi, penjelasan tersebut terlalu sederhana jika digunakan untuk menjelaskan semua perilaku menjilat.
Kalau Anjing Menjilat Wajah, Berarti Dia Sangat Sayang?
Bisa menjadi bagian dari hubungan sosial yang positif, tetapi tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator kasih sayang.
Hubungan yang baik antara anjing dan manusia dapat terlihat melalui banyak hal:
- anjing nyaman berada di dekat pemilik,
- mampu beristirahat di sekitar pemilik,
- mau berinteraksi,
- menunjukkan perilaku sosial yang rileks,
- mampu mengeksplorasi lingkungan,
- dan memiliki respons yang sesuai terhadap situasi.
Jadi, jangan mengukur kualitas hubungan hanya dari:
berapa sering anjing menjilat wajah kita.
Perhatikan Bahasa Tubuh Saat Menjilat
Ini bagian yang paling penting.
Jika anjing menjilat Anda, lihat juga:
🐕 Tubuh
Rileks atau tegang?
👀 Mata
Tatapannya lembut dan natural atau justru menghindar?
👂 Telinga
Dalam posisi normal atau ditarik ke belakang?
🐾 Gerakan tubuh
Mendekat dengan santai atau mencoba menjauh?
🧠 Konteks
Apa yang baru saja terjadi?
Apakah Anda sedang memeluknya?
Apakah Anda sedang memegang makanannya?
Apakah ada orang asing?
Apakah ia sedang berada dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman?
Semua informasi tersebut membantu kita memahami perilakunya.
Jangan Memaksa Anjing Menjilat atau Mencium Wajah
Ada satu prinsip penting:
Interaksi harus bersifat dua arah.
Kita mungkin menyukai ketika anjing menjilat wajah.
Tetapi belum tentu anjing selalu nyaman jika wajahnya didekatkan ke wajah manusia.
Begitu pula sebaliknya.
Jika anjing menjauh, memalingkan kepala, menjadi kaku, atau menunjukkan tanda tidak nyaman ketika wajahnya didekatkan, jangan dipaksa.
Kasih sayang tidak membutuhkan pemaksaan.
Bagaimana dengan Anak-Anak?
Bagian ini sangat penting.
Anak-anak sering menganggap anjing sebagai teman bermain.
Mereka mungkin ingin:
- memeluk,
- mencium,
- mendekatkan wajah,
- atau membiarkan anjing menjilat wajah.
Namun, interaksi anak dan anjing tetap perlu pengawasan orang dewasa.
Jangan mengajarkan anak bahwa:
“Kalau anjing menjilat berarti boleh dipeluk.”
Sebaliknya, ajarkan anak untuk memperhatikan respons anjing.
Jika anjing ingin menjauh:
beri ruang.
Jika anjing menunjukkan tanda tidak nyaman:
hentikan interaksi.
Ini bukan hanya soal keamanan anak.
Ini juga tentang menghormati batas hewan.
Apakah Aman Membiarkan Anjing Menjilat Wajah?
Ini juga perlu diperhatikan dari sisi kesehatan.
Mulut anjing bukan sesuatu yang dapat dianggap steril. Hewan peliharaan dapat membawa mikroorganisme yang berpotensi menyebabkan penyakit pada manusia, meskipun risiko pada orang sehat umumnya berbeda dengan risiko pada individu tertentu.
Karena itu, terutama untuk kebersihan, sebaiknya hindari membiarkan anjing menjilat:
- mulut,
- mata,
- atau luka terbuka.
Dan setelah berinteraksi dengan hewan, terutama sebelum makan, cuci tangan dengan baik.
Jika seseorang memiliki kondisi kesehatan tertentu yang membuatnya lebih rentan terhadap infeksi, kehati-hatian tambahan diperlukan.
Jadi, kita tidak perlu takut berlebihan terhadap anjing.
Tetapi juga tidak perlu menganggap:
“Air liur anjing pasti bersih.”
Keduanya sama-sama tidak tepat.
Bagaimana Jika Kita Tidak Suka Dijilat?
Tidak masalah.
Menjadi pet parent yang baik tidak berarti kita harus menerima semua bentuk interaksi yang dilakukan anjing.
Jika Anda tidak nyaman ketika anjing menjilat wajah, Anda dapat mengajarkan perilaku alternatif.
Misalnya:
Anjing datang → duduk → mendapat perhatian.
Dengan demikian, anjing belajar bahwa ia tetap dapat memperoleh interaksi positif tanpa harus menjilat wajah.
Kuncinya adalah konsistensi.
Jangan Menghukum Anjing karena Menjilat
Jika perilaku menjilat tidak diinginkan, tidak berarti anjing harus dimarahi.
Lebih baik:
- alihkan dengan tenang,
- berikan alternatif perilaku,
- berikan perhatian ketika ia melakukan perilaku yang diinginkan,
- dan konsisten dalam menerapkan aturan.
Tujuannya bukan sekadar:
“Hentikan menjilat!”
Tetapi:
“Ini perilaku yang boleh kamu lakukan untuk mendapatkan perhatian.”
Pendekatan seperti ini membantu membangun komunikasi yang lebih jelas antara manusia dan anjing.
Jadi, Apa Sebenarnya yang Ingin Disampaikan Anjing?
Inilah pertanyaan yang lebih menarik.
Daripada selalu bertanya:
“Apakah dia sedang mencium saya?”
cobalah bertanya:
“Dalam situasi ini, apa fungsi perilaku menjilat tersebut?”
Apakah ia:
- menyapa?
- mencari perhatian?
- tertarik pada aroma?
- mengharapkan respons?
- menunjukkan perilaku sosial?
- atau sedang berada dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman?
Jawabannya dapat berbeda dari satu anjing ke anjing lainnya.
Pet Parent yang Baik Tidak Hanya Membaca Perilaku
Menjadi pet parent bukan hanya tentang mengetahui:
“Apa arti perilaku ini?”
Tetapi juga:
“Bagaimana seharusnya saya merespons?”
Ketika kita memahami alasan di balik perilaku, kita dapat merespons dengan lebih tepat.
Jika anjing ingin berinteraksi, kita dapat memberikan interaksi yang aman.
Jika ia meminta ruang, kita memberinya ruang.
Jika perilakunya menjadi berlebihan atau tiba-tiba berubah, kita mencari penyebabnya.
Karena tujuan akhirnya bukan membuat anjing melakukan apa yang kita sukai.
Tujuannya adalah membangun hubungan yang aman, sehat, dan saling menghormati.
Kesimpulan
Mengapa anjing suka menjilat wajah kita?
Tidak ada satu jawaban untuk semua anjing.
Jilatan dapat menjadi bagian dari interaksi sosial, cara mendapatkan perhatian, perilaku yang telah diperkuat oleh pengalaman, respons terhadap aroma atau rasa pada kulit, maupun bagian dari komunikasi dalam konteks tertentu.
Jadi, apakah menjilat berarti sayang?
Bisa menjadi bagian dari hubungan sosial yang positif, tetapi tidak selalu berarti “ciuman” atau tanda kasih sayang.
Yang paling penting adalah melihat keseluruhan bahasa tubuh dan konteks perilaku.
Dan yang tak kalah penting:
Jangan hanya bertanya apakah kita menikmati perilaku tersebut. Tanyakan juga apakah anjing kita nyaman melakukannya.
Karena hubungan yang baik dengan hewan bukan hanya tentang bagaimana mereka membuat kita merasa dicintai.
Tetapi juga tentang bagaimana kita membuat mereka merasa aman dan dihormati.
Referensi
Overall, K. L. (2013). Manual of clinical behavioral medicine for dogs and cats. Elsevier.
Miklósi, Á. (2015). Dog behaviour, evolution, and cognition (2nd ed.). Oxford University Press.
Horowitz, A. (2009). Disambiguating the “guilty look”: Salient prompts to a familiar dog behaviour. Behavioural Processes, 81(3), 447–452. https://doi.org/10.1016/j.beproc.2009.03.014
Udell, M. A. R., Dorey, N. R., & Wynne, C. D. L. (2010). What did domestication do to dogs? A new account of dogs’ sensitivity to human actions. Behavioural Processes, 84(3), 739–744. https://doi.org/10.1016/j.beproc.2010.04.011