Berita & Artikel
Ketika Kepedulian Menjadi Pengetahuan

Mengapa Anjing Menggeram? Jangan Langsung Memarahinya
(sumber gambar : https://unsplash.com/id/foto/golden-retriever-dan-gembala-jerman-hitam-dan-cokelat-di-lapangan-coklat-pada-siang-hari-S3TPJCOIRoo) Pernah Dimarahi Karena Menggeram? “Jangan menggeram!” Kalimat seperti ini mungkin pernah kita dengar ketika seekor anjing menunjukkan geraman. Bagi manusia, suara geraman memang dapat terdengar menakutkan. Apalagi jika disertai tatapan tajam atau gigi yang terlihat. Tetapi sebelum memarahi anjing, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting: Mengapa anjing tersebut menggeram? Geraman merupakan salah satu bentuk komunikasi pada anjing. Artinya dapat berbeda tergantung situasi, konteks, dan bahasa tubuh yang menyertainya. Karena itu, anjing yang menggeram tidak selalu berarti sedang berusaha menyerang. Kadang-kadang ia justru sedang mengatakan: “Aku tidak nyaman.” “Tolong jangan mendekat.” “Aku takut.” “Berikan aku ruang.” Memahami pesan tersebut merupakan bagian penting dari menjadi pet parent yang bertanggung jawab. Menggeram Tidak Sama dengan “Anjing Jahat” Salah satu kesalahan terbesar dalam memahami perilaku anjing adalah memberikan label terlalu cepat. Anjing menggeram → agresif → jahat. Padahal perilaku hewan tidak sesederhana itu. Geraman dapat muncul dalam berbagai konteks. Seekor anjing mungkin menggeram ketika merasa terancam, takut, tidak nyaman, menjaga sesuatu yang dianggap penting, atau ketika interaksi dengan manusia sudah melewati batas toleransinya. Karena itu, geraman harus dibaca sebagai informasi. Bukan semata-mata sebagai sesuatu yang harus dihentikan. Mengapa Anjing Menggeram? Ada beberapa kemungkinan penyebab. 1. Merasa Takut Anjing yang takut dapat menunjukkan perilaku defensif. Misalnya ketika: Dalam kondisi seperti ini, geraman dapat menjadi sinyal: “Jangan semakin dekat.” Jika sinyal tersebut diabaikan, anjing dapat semakin tertekan. 2. Merasa Tidak Nyaman Bayangkan seekor anjing sedang beristirahat. Kemudian seseorang terus memeluknya, menyentuh tubuhnya, atau mendekatkan wajah ke wajahnya. Anjing mungkin awalnya mencoba menjauh. Jika interaksi terus dipaksakan, ia dapat memberikan sinyal yang semakin jelas. Geraman bisa menjadi salah satunya. Ini menunjukkan pentingnya memahami bahwa hewan juga memiliki batas pribadi. 3. Merasa Sakit Ini merupakan hal yang sangat penting. Anjing yang biasanya ramah tiba-tiba menggeram ketika bagian tubuh tertentu disentuh mungkin sedang mengalami masalah fisik. Misalnya ketika: Dalam kondisi seperti ini, jangan langsung menganggap perubahan perilaku sebagai “anjing menjadi galak”. Rasa sakit dapat memengaruhi perilaku. Jika perilaku tersebut muncul secara tiba-tiba atau berkaitan dengan bagian tubuh tertentu, pemeriksaan oleh dokter hewan merupakan langkah yang bijaksana. 4. Menjaga Sesuatu yang Dianggap Berharga Beberapa anjing dapat menggeram ketika seseorang mendekati sesuatu yang sedang mereka anggap bernilai. Misalnya: Perilaku ini sering disebut resource guarding. Masalahnya bukan sekadar “anjing tidak mau berbagi”. Ada respons emosional yang mendasarinya, seperti kekhawatiran kehilangan sumber daya tersebut. Karena itu, mengambil makanan atau benda secara paksa sambil memarahi anjing bukanlah pendekatan yang bijaksana. 5. Frustrasi atau Konflik Anjing juga dapat menunjukkan geraman ketika berada dalam kondisi frustrasi atau mengalami konflik. Misalnya ia ingin mendekati sesuatu tetapi terhalang, atau mengalami situasi sosial yang membuatnya sulit menentukan respons. Inilah sebabnya mengapa kita tidak dapat menentukan arti geraman hanya berdasarkan suaranya. Konteks sangat penting. Perhatikan Bahasa Tubuhnya Seperti pada artikel sebelumnya tentang kibasan ekor, jangan membaca satu bagian tubuh secara terpisah. Ketika anjing menggeram, perhatikan: 👀 Mata Apakah ia menghindari pandangan? Atau justru memberikan tatapan yang intens? 👂 Telinga Apakah telinga ditarik ke belakang? Atau mengarah ke depan? 🐕 Tubuh Apakah tubuhnya rileks? Atau justru kaku? 🐾 Posisi tubuh Apakah ia berusaha menjauh? Atau justru bergerak mendekat? 🦷 Mulut Apakah hanya menggeram? Apakah bibir terangkat? Apakah gigi terlihat? Semua informasi tersebut harus dibaca secara keseluruhan. “Kalau Begitu, Mengapa Geramannya Tidak Boleh Dihilangkan?” Ini pertanyaan yang sangat penting. Karena bagi manusia, geraman mungkin terasa mengganggu atau menakutkan. Namun dari sudut pandang komunikasi, geraman dapat menjadi peringatan sebelum perilaku meningkat. Jika setiap geraman selalu dihukum, anjing dapat belajar bahwa memberikan sinyal tersebut tidak aman. Masalahnya, penyebab ketidaknyamanan belum tentu hilang. Dengan kata lain: kita mungkin berhasil menghentikan suara geraman, tetapi belum tentu menyelesaikan masalah yang membuat anjing tersebut merasa perlu menggeram. Karena itu, pendekatan terhadap perilaku sebaiknya tidak hanya berfokus pada: “Bagaimana membuat anjing berhenti menggeram?” Tetapi juga: “Apa yang membuat anjing merasa perlu menggeram?” Jangan Menguji Anjing Kesalahan lain yang sering dilakukan adalah sengaja menguji reaksi anjing. Misalnya: “Coba kita ambil makanannya, apakah dia akan menggeram?” Atau: “Coba pegang terus, nanti juga terbiasa.” Ini bukan cara yang aman untuk memahami perilaku. Jika anjing sudah menunjukkan tanda tidak nyaman, tindakan yang lebih bijaksana adalah mengurangi tekanan dan memberi ruang, bukan terus menguji batas toleransinya. Lalu Apa yang Harus Dilakukan Ketika Anjing Menggeram? Jika Anda berada di dekat anjing yang menggeram: 1. Berhenti melakukan tindakan yang membuatnya tidak nyaman Jika Anda sedang menyentuhnya dan ia menggeram, pertimbangkan untuk menghentikan interaksi. 2. Berikan ruang Jangan memaksa anjing untuk tetap berada dalam situasi tersebut. 3. Jangan menghukum secara fisik Hindari memukul, menendang, menarik secara kasar, atau menggunakan tindakan yang menimbulkan rasa takut. 4. Perhatikan pemicunya Catat: Kapan ia menggeram? Kepada siapa? Di mana? Apa yang terjadi sebelumnya? Informasi tersebut dapat membantu menemukan pola. 5. Cari bantuan profesional jika diperlukan Jika geraman sering terjadi, semakin intens, muncul tanpa pemicu yang jelas, atau disertai perilaku yang berisiko, konsultasikan dengan dokter hewan dan/atau profesional perilaku hewan yang kompeten. Terutama jika terdapat kemungkinan masalah kesehatan atau rasa sakit. Bagaimana dengan Anak-Anak? Ini sangat penting bagi keluarga yang memiliki anak. Anak-anak sering belum mampu membaca bahasa tubuh anjing dengan baik. Karena itu, jangan mengajarkan anak: “Anjing harus mau dipeluk.” Sebaliknya, ajarkan: “Kalau anjing ingin menjauh, biarkan dia.” Anak juga sebaiknya tidak mengganggu anjing ketika sedang: Interaksi antara anak dan anjing sebaiknya selalu mendapatkan pengawasan orang dewasa. Geraman Bukan Musuh Ada perubahan cara pandang yang sederhana tetapi penting. Daripada melihat: GERAMAN = MASALAH cobalah melihat: GERAMAN = INFORMASI Informasi bahwa ada sesuatu dalam situasi tersebut yang perlu kita pahami. Tentu, geraman tetap harus dianggap serius karena dapat menjadi bagian dari perilaku agresif dan memiliki potensi risiko, terutama jika disertai bahasa tubuh yang mengancam. Tetapi respons yang tepat bukan sekadar membungkam suara tersebut. Kita perlu memahami penyebabnya dan mengelola situasinya dengan aman. Dari Menghukum Menjadi Memahami Menjadi pet parent bukan berarti membuat anjing selalu melakukan apa yang kita inginkan. Tanggung jawab kita juga mencakup kemampuan mengenali: kapan mereka nyaman, kapan mereka takut, kapan mereka sakit, dan kapan mereka membutuhkan ruang. Ketika seekor anjing menggeram, mungkin ia sedang memberikan informasi yang sangat berharga kepada kita. Ia sedang

Mengapa Anjing Mengibaskan Ekor? Ternyata Tidak Selalu Berarti Senang
Pernah Mengira Anjing Mengibaskan Ekor Berarti Ia Senang? Bayangkan Anda bertemu seekor anjing. Begitu melihat Anda, ekornya bergerak cepat. Apa yang langsung Anda pikirkan? “Dia senang melihat saya!” Anggapan ini sangat umum. Namun, ada satu hal penting yang perlu diketahui oleh setiap pet lover dan pet parent: Anjing yang mengibaskan ekornya belum tentu sedang bahagia. Gerakan ekor merupakan salah satu bentuk komunikasi pada anjing. Untuk memahami apa yang sedang dirasakan anjing, kita perlu melihat keseluruhan bahasa tubuhnya, bukan hanya ekornya. Ekor Anjing Adalah Alat Komunikasi Anjing tidak menggunakan kata-kata seperti manusia. Mereka berkomunikasi melalui berbagai sinyal, antara lain: Karena itu, ekor sebaiknya dipahami sebagai satu bagian dari sistem komunikasi tubuh anjing. Gerakan ekor dapat memberikan informasi mengenai tingkat arousal atau keadaan emosional anjing, tetapi maknanya sangat bergantung pada konteks dan sinyal tubuh lainnya. Jadi, Apa Arti Anjing Mengibaskan Ekornya? Tidak ada satu arti tunggal. Seekor anjing dapat mengibaskan ekornya ketika mengalami berbagai keadaan emosional. Misalnya: Anjing yang merasa nyaman dan antusias dapat menunjukkan ekor yang bergerak bersama postur tubuh yang rileks. Biasanya kita juga dapat melihat: Dalam kondisi seperti ini, kibasan ekor memang dapat menjadi bagian dari ekspresi positif. Tetapi jangan berhenti pada ekornya. Lihat seluruh tubuhnya. Ini bagian yang sering disalahpahami. Seekor anjing yang merasa takut atau tidak nyaman juga dapat menggerakkan ekornya. Misalnya, anjing berada dalam situasi sosial yang membuatnya tidak yakin. Ia mungkin: Dalam kondisi seperti ini, mengatakan: “Ekor bergerak berarti dia senang.” bisa membuat kita salah membaca situasi. Dan kesalahan membaca bahasa tubuh dapat berbahaya. Jangan Hanya Melihat Kecepatan Kibasan Banyak orang menggunakan aturan sederhana: Semakin cepat ekornya bergerak, semakin senang anjingnya. Tidak sesederhana itu. Kecepatan gerakan ekor lebih tepat dipahami sebagai bagian dari tingkat aktivasi atau arousal. Anjing yang sangat bersemangat dapat menunjukkan gerakan ekor yang cepat. Namun high arousal tidak selalu sama dengan kebahagiaan. Anjing dapat mengalami arousal tinggi ketika: Jadi pertanyaan yang lebih tepat bukan: “Seberapa cepat ekornya bergerak?” melainkan: “Dalam situasi apa ekornya bergerak dan bagaimana seluruh tubuhnya merespons?” Perhatikan Posisi Ekor Selain gerakannya, posisi ekor juga penting. Secara umum, posisi ekor yang sangat tinggi, netral, rendah, atau terselip dapat memberikan informasi berbeda mengenai kondisi anjing. Namun, kita perlu berhati-hati. Bentuk dan posisi alami ekor berbeda-beda antarindividu dan ras. Anjing dengan ekor yang secara alami melengkung ke atas tentu akan terlihat berbeda dari anjing dengan ekor yang menggantung rendah. Karena itu, jangan hanya membandingkan anjing dengan “standar” yang kita bayangkan. Lebih baik memahami: bagaimana posisi ekor anjing tersebut ketika ia berada dalam kondisi normal. Perubahan dari kondisi normal (baseline) dapat memberikan informasi yang lebih berguna. Lihat Telinganya Ekor bukan satu-satunya indikator. Perhatikan telinga. Apakah telinganya: Perubahan posisi telinga bersama perubahan postur tubuh dapat membantu kita memahami keadaan emosional anjing. Lihat Tubuhnya Ini bahkan lebih penting. Tubuh rileks Jika tubuh terlihat lentur, gerakan natural, dan anjing menunjukkan postur yang santai, situasinya kemungkinan lebih positif. Tubuh kaku Sebaliknya, tubuh yang tiba-tiba menjadi kaku perlu diperhatikan. Anjing yang terlihat diam tetapi tubuhnya sangat tegang tidak selalu berarti tenang. Bisa jadi ia sedang mengalami ketegangan atau konflik emosional. Jangan Lupa Melihat Wajah Ekspresi wajah juga memberikan informasi. Perhatikan: Misalnya, anjing yang terus menghindari pandangan, menjilat bibir, atau menunjukkan tanda-tanda appeasement mungkin sedang berusaha meredakan situasi yang dianggap tidak nyaman. Bagaimana Jika Anjing Menggeram Sambil Mengibaskan Ekor? Ini contoh yang sangat penting. Bayangkan: ekor bergerak + tubuh kaku + tatapan intens + menggeram. Apakah kita harus mengatakan: “Dia senang!” Tentu tidak. Dalam situasi seperti ini, keseluruhan bahasa tubuh menunjukkan tingkat ketegangan yang tinggi. Yang paling aman adalah: beri ruang dan jangan memaksa interaksi. Menggeram bukan sesuatu yang seharusnya langsung dihukum. Geraman merupakan salah satu bentuk komunikasi yang memberi kita informasi bahwa anjing sedang berada dalam kondisi tertentu dan membutuhkan perhatian terhadap konteks. Kesalahan yang Sering Dilakukan Pet Lover Ada beberapa kebiasaan yang perlu kita ubah. ❌ “Ekor goyang berarti boleh dielus.” Belum tentu. ❌ “Dia tidak menggonggong berarti dia aman.” Belum tentu. ❌ “Dia diam berarti dia tenang.” Belum tentu. ❌ “Dia menggeram berarti dia anjing jahat.” Tidak tepat. ❌ “Semua anjing menunjukkan emosi dengan cara yang sama.” Tidak. Setiap anjing memiliki pengalaman, temperamen, karakteristik tubuh, dan konteks sosial yang berbeda. Cara Membaca Bahasa Tubuh Anjing dengan Lebih Baik Mulai sekarang, ketika bertemu anjing, gunakan prinsip sederhana: Lihat 5 hal 1. Ekor Bagaimana posisi dan gerakannya? 2. Telinga Bagaimana posisinya? 3. Mata Ke mana arah pandangannya? Apakah ada perubahan ekspresi? 4. Tubuh Rileks atau kaku? 5. Konteks Apa yang sedang terjadi di sekitarnya? Kemudian gabungkan semua informasi tersebut. Dari “Membaca” Menjadi “Menghormati” Inilah bagian terpenting dalam memahami perilaku hewan. Belajar bahasa tubuh anjing bukan bertujuan agar kita bisa memaksa anjing melakukan apa yang kita inginkan. Sebaliknya, pengetahuan tersebut membantu kita menghormati batas dan kebutuhan hewan. Jika seekor anjing menunjukkan tanda takut, kita memberi ruang. Jika ia menunjukkan tanda tidak nyaman, kita berhenti memaksa interaksi. Jika ia terlihat rileks dan menginginkan interaksi, kita tetap melakukannya dengan cara yang sesuai. Karena animal welfare dimulai dari kemampuan manusia untuk memahami apa yang sedang dialami hewan. Kesimpulan Jadi, mengapa anjing mengibaskan ekor? Jawabannya bukan sekadar: “Karena dia senang.” Kibasan ekor merupakan bagian dari komunikasi anjing dan harus dibaca bersama postur tubuh, telinga, wajah, tingkat arousal, serta konteks situasi. Semakin kita memahami bahasa tubuh anjing, semakin kecil kemungkinan kita salah menafsirkan perilakunya. Dan pada akhirnya, memahami perilaku bukan hanya membuat kita menjadi pet lover yang lebih pintar. Tetapi juga menjadi pet parent yang lebih bertanggung jawab. Mereka mungkin tidak bisa mengatakan “aku takut”, “aku nyaman”, atau “tolong beri aku ruang”. Tetapi tubuh mereka selalu berusaha menyampaikannya. Belajarlah mendengarkan. Referensi Beerda, B., Schilder, M. B. H., van Hooff, J. A. R. A. M., de Vries, H. W., & Mol, J. A. (1997). Manifestations of chronic and acute stress in dogs. Applied Animal Behaviour Science, 52(3–4), 307–319. https://doi.org/10.1016/S0168-1591(96)01131-8 Beerda, B., Schilder, M. B. H., van Hooff, J. A. R. A. M., de Vries, H. W., & Mol, J. A. (1998). Behavioural, saliva cortisol and heart rate responses to different types of stimuli in dogs. Applied Animal Behaviour Science, 58(3–4), 365–381. https://doi.org/10.1016/S0168-1591(97)00145-7 Bradshaw, J.

Mengapa Anjing Suka Mengikuti Pemiliknya ke Mana-Mana? Apakah Itu Tanda Sayang?
(sumber gambar : https://unsplash.com/id/foto/seseorang-berjalan-dengan-anjing-putih-dengan-tali-kqLl6Ao7V4k) Ke Mana Pun Kita Pergi, Dia Ikut Ke dapur, ikut. Ke ruang tamu, ikut. Ke kamar, ikut. Bahkan ketika kita hanya ingin mengambil sesuatu sebentar, anjing langsung bangun dan berjalan mengikuti. Tidak sedikit pet parent yang kemudian berkata: “Anjingku sayang banget sama aku. Ke mana-mana selalu ngikut.” Bisa jadi memang ada hubungan sosial yang kuat antara anjing dan pemiliknya. Tetapi, apakah setiap anjing yang selalu mengikuti pemiliknya berarti sedang menunjukkan kasih sayang? Tidak selalu. Perilaku mengikuti dapat memiliki berbagai alasan. Untuk memahaminya, kita perlu melihat konteks dan perilaku lain yang menyertainya. Anjing Memang Bisa Memiliki Ikatan Kuat dengan Manusia Hubungan antara anjing dan manusia bukan sekadar hubungan antara pemilik dan hewan peliharaan. Penelitian mengenai hubungan anjing-manusia menunjukkan bahwa anjing dapat membentuk hubungan attachment-like dengan pemiliknya. Dalam penelitian tentang secure base effect, kehadiran pemilik dapat memberikan rasa aman yang membuat anjing lebih mampu mengeksplorasi lingkungan dan melakukan aktivitas tertentu. Dengan kata lain, bagi sebagian anjing: pemilik bukan hanya sumber makanan. Pemilik juga dapat menjadi: Jadi, tidak mengherankan jika anjing sering memilih berada dekat dengan orang yang mereka percayai. Tetapi Mengikuti Pemilik Tidak Selalu Berarti “Aku Sayang Kamu” Bayangkan Anda sedang berada di rumah. Anjing mengikuti Anda dari satu ruangan ke ruangan lain. Tetapi setelah Anda berhenti, ia dengan santai berbaring di dekat Anda. Kemudian ketika Anda pergi ke ruangan lain, ia kembali mengikuti. Perilaku seperti ini dapat merupakan bagian dari proximity seeking, yaitu kecenderungan untuk mempertahankan kedekatan dengan figur sosial yang dianggap penting. Namun ada situasi lain. Anjing mengikuti Anda dengan sangat intens. Ketika Anda masuk kamar mandi, ia menunggu di depan pintu. Ketika Anda mengambil tas, ia langsung gelisah. Ketika Anda bersiap keluar rumah, ia mulai menunjukkan perubahan perilaku. Dan ketika Anda benar-benar pergi, ia mengalami masalah seperti vokalisasi berlebihan, perilaku destruktif, atau tanda distress lainnya. Nah, ini perlu dilihat lebih serius. Dekat dengan Pemilik ≠ Separation Anxiety Ini salah satu kesalahpahaman yang penting. Anjing yang suka mengikuti pemiliknya tidak otomatis mengalami separation anxiety. Kedekatan dengan pemilik dan masalah terkait perpisahan merupakan dua hal yang berbeda. Penelitian mengenai separation anxiety memang menemukan bahwa perilaku hyperattachment, termasuk mengikuti pemilik secara ekstrem, dapat berhubungan dengan masalah terkait perpisahan. Namun, perilaku mengikuti saja tidak cukup untuk menentukan diagnosis. Artinya: “Anjing saya selalu mengikuti saya” bukan berarti “anjing saya pasti separation anxiety.” Kita perlu melihat apa yang terjadi ketika pemilik tidak ada. Lalu Mengapa Anjing Mengikuti Kita? Ada beberapa kemungkinan. 1. Karena Kita Adalah Figur yang Penting Baginya Ini penjelasan yang paling sederhana. Anjing dapat membangun hubungan yang kuat dengan manusia. Penelitian menunjukkan bahwa anjing dapat menunjukkan perilaku seperti mempertahankan kedekatan, mencari pemilik ketika mengalami situasi tertentu, dan menggunakan pemilik sebagai sumber rasa aman. Jadi, ketika anjing memilih berjalan mengikuti kita, salah satu kemungkinannya adalah: “Saya ingin berada dekat dengan orang yang saya percaya.” 2. Karena Anjing Belajar bahwa Mengikuti Kita Itu Menguntungkan Anjing juga merupakan pembelajar yang sangat baik. Bayangkan setiap kali Anda pergi ke dapur: “Siapa mau snack?” Anjing datang. Ia mendapat makanan. Besoknya Anda pergi ke dapur. Ia mengikuti lagi. Lama-kelamaan terbentuk sebuah pola: Pemilik bergerak → saya mengikuti → mungkin ada sesuatu yang menyenangkan. Jadi, tidak semua perilaku mengikuti berkaitan dengan emosi yang kompleks. Kadang jawabannya sangat sederhana: “Biasanya kalau kamu ke sana, ada sesuatu yang menarik.” 3. Karena Ingin Tahu Anjing adalah hewan yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Ketika kita bangun dari kursi, membuka pintu, mengambil tas, atau berjalan ke ruangan lain, aktivitas tersebut dapat menjadi stimulus yang menarik perhatian. Anjing mungkin berpikir: “Kita mau ke mana?” Ini terutama terlihat pada anjing yang memang memiliki sifat aktif dan sangat tertarik pada aktivitas manusia di sekitarnya. 4. Karena Merasa Aman Ketika Dekat dengan Pemilik Ini merupakan aspek yang menarik dari hubungan anjing dan manusia. Dalam penelitian secure base, anjing menunjukkan perilaku yang berbeda ketika pemilik hadir dibandingkan ketika pemilik tidak ada. Kehadiran pemilik dapat menjadi sumber keamanan yang membantu anjing berinteraksi dengan lingkungan. Jadi, berada dekat dengan pemilik tidak selalu berarti anjing “manja”. Bisa jadi: kehadiran Anda membuat lingkungan terasa lebih aman baginya. 5. Karena Memang Sudah Menjadi Kebiasaan Perilaku juga dapat terbentuk melalui rutinitas. Jika sejak kecil anjing selalu berada dekat manusia, tidur dekat manusia, dan hampir selalu ditemani, ia mungkin terbiasa dengan pola tersebut. Ketika pola berubah, anjing mungkin membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Karena itu, membangun kemampuan anjing untuk tetap nyaman ketika tidak selalu berada tepat di sebelah pemilik juga merupakan bagian penting dari pengelolaan kesejahteraan dan perilaku. Kapan Kita Perlu Waspada? Yang perlu diperhatikan bukan hanya: “Apakah anjing mengikuti saya?” Tetapi: “Bagaimana kondisi anjing ketika saya tidak ada?” Perhatikan apakah terdapat tanda-tanda seperti: Jika pola tersebut muncul secara konsisten dan berkaitan dengan perpisahan, konsultasi dengan dokter hewan atau profesional perilaku hewan dapat membantu menentukan penyebabnya. Jangan Sengaja Menguji Anjing Ada satu hal yang sebaiknya tidak dilakukan. Jangan berpikir: “Kalau dia memang sayang, saya akan pergi lama supaya tahu dia mencari saya atau tidak.” Ini bukan cara yang baik untuk menguji ikatan dengan anjing. Jika anjing memang memiliki masalah ketika ditinggalkan, membuatnya mengalami distress secara sengaja tidak akan menyelesaikan masalah. Sebaliknya, kita perlu memahami pemicu dan membangun kemampuan anjing untuk merasa aman secara bertahap. Bagaimana Membuat Anjing Tetap Nyaman Saat Tidak Selalu Bersama Kita? Menjadi pet parent bukan berarti anjing harus selalu berada di samping kita selama 24 jam. Anjing juga perlu memiliki kesempatan untuk: Kemandirian bukan berarti mengurangi kasih sayang. Justru kita ingin menciptakan hubungan yang membuat anjing: dekat ketika ingin bersosialisasi, tetapi juga tetap mampu merasa aman ketika tidak sedang berada di samping pemilik. Bagaimana Membedakan “Mengikuti karena Nyaman” dan “Mengikuti karena Cemas”? Perilaku Kemungkinan interpretasi Mengikuti pemilik tetapi kemudian santai Bisa merupakan kedekatan sosial normal Mengikuti karena ada aktivitas menarik Rasa ingin tahu atau pembelajaran Mengikuti ke dapur karena sering mendapat makanan Perilaku yang diperkuat oleh pengalaman Mengikuti tetapi tetap mampu tidur/beraktivitas sendiri Tidak otomatis menunjukkan masalah Sangat gelisah ketika pemilik bersiap pergi Perlu diperhatikan Menunjukkan distress ketika ditinggalkan Perlu evaluasi lebih lanjut Perilaku destruktif terutama ketika sendirian Dapat berkaitan dengan masalah terkait perpisahan Catatan: tabel ini bukan alat

Mengapa Anjing Suka Menjilat Wajah Kita? Apakah Benar Itu Tanda Sayang?
(sumber gambar : https://unsplash.com/id/foto/kucing-coklat-dewasa-Ah_QC2v2alE) “Dia Mencium Aku!” Ketika seekor anjing menjilat wajah pemiliknya, banyak orang langsung tersenyum. “Dia sayang banget sama aku.” Bahkan tidak sedikit pet parent yang menganggap jilatan anjing sebagai bentuk ciuman. Memang, interaksi tersebut bisa menjadi bagian dari hubungan sosial yang positif antara anjing dan manusia. Tetapi apakah setiap jilatan berarti: “Aku sayang kamu”? Jawabannya: Tidak selalu. Jilatan merupakan salah satu perilaku yang dapat memiliki berbagai fungsi. Untuk memahami maknanya, kita perlu melihat kapan anjing menjilat, apa yang terjadi sebelumnya, bagian tubuh yang dijilat, serta bahasa tubuh anjing secara keseluruhan. Mengapa Anjing Menjilat? Ada lebih dari satu kemungkinan. Bagi manusia, jilatan mungkin terlihat sederhana. Namun bagi anjing, perilaku tersebut dapat berkaitan dengan interaksi sosial, eksplorasi, komunikasi, perhatian, atau respons terhadap situasi tertentu. Jadi, jangan buru-buru menerjemahkannya menjadi satu kalimat: “Anjing menjilat = anjing sayang.” 1. Bisa Menjadi Bagian dari Interaksi Sosial Anjing merupakan hewan sosial. Kontak fisik dan berbagai bentuk perilaku sosial dapat menjadi bagian dari hubungan antara anjing dengan individu lain, termasuk manusia. Ketika anjing mendekati pemilik dan menjilat tangan atau wajahnya dalam situasi yang santai, perilaku tersebut dapat menjadi bagian dari interaksi sosial. Misalnya: Anda baru pulang. Anjing mendekat. Tubuhnya rileks. Ekornya bergerak dengan santai. Ia mendekat dan menjilat tangan Anda. Dalam konteks seperti ini, jilatan dapat menjadi bagian dari sapaan dan interaksi sosial yang positif. Tetapi tetap tidak berarti kita dapat menerjemahkan setiap jilatan secara otomatis sebagai “ciuman”. 2. Karena Ia Mendapatkan Respons dari Kita Ada alasan yang jauh lebih sederhana: Anda memberikan respons setiap kali ia menjilat. Misalnya: Anjing menjilat tangan. Anda tertawa. Anda mengelus kepalanya. Anda berbicara: “Aduh, sayang banget!” Bagi anjing, interaksi tersebut dapat menjadi sesuatu yang menyenangkan. Akibatnya, perilaku menjilat dapat semakin sering muncul. Ini adalah contoh bagaimana perilaku dapat dipengaruhi oleh konsekuensi setelah perilaku tersebut terjadi. Jadi kadang-kadang: Anjing bukan sedang berpikir “aku ingin mencium manusia.” Bisa jadi ia sudah belajar: “Kalau aku melakukan ini, manusia memberikan perhatian.” 3. Karena Ingin Mendapatkan Perhatian Pernah mengalami ini? Anda sedang bekerja. Anjing datang. Ia melihat Anda. Kemudian menjilat tangan. Anda berhenti bekerja dan mengelusnya. Anjing mendapatkan apa yang ia inginkan: perhatian. Jika pola tersebut berulang, perilaku menjilat dapat menjadi salah satu cara yang digunakan anjing untuk memulai interaksi. Ini bukan berarti anjing sedang “memanipulasi” kita. Ini adalah proses belajar yang normal. 4. Karena Ingin Menyampaikan Sinyal Sosial Jilatan juga dapat muncul dalam konteks komunikasi sosial. Pada anjing, perilaku yang tampak seperti menjilat dapat muncul bersama sinyal tubuh lain ketika mereka berada dalam situasi sosial tertentu. Karena itu, konteks sangat penting. Bayangkan dua situasi: Situasi A Anjing mendekati pemilik dengan tubuh rileks, bergerak santai, dan menjilat tangan. Situasi B Anjing berada dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman, tubuhnya tegang, telinga ditarik ke belakang, menghindari kontak mata, dan melakukan jilatan bibir berulang. Keduanya sama-sama melibatkan gerakan pada area mulut. Tetapi konteks emosionalnya bisa sangat berbeda. Itulah mengapa membaca bahasa tubuh anjing tidak boleh hanya berdasarkan satu gerakan. 5. Karena Ada Sesuatu yang Menarik pada Kulit Kita Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sangat mungkin terjadi. Kulit manusia memiliki: Jika tangan kita baru saja memegang makanan, misalnya, anjing mungkin tertarik menjilatnya. Jadi, tidak semua jilatan memiliki makna emosional yang mendalam. Kadang jawabannya hanya: “Ada sesuatu yang menarik di sini.” Apakah Anjing Menjilat Wajah Karena Menganggap Kita Ibunya? Ini adalah salah satu mitos yang sering muncul. Kita kadang mendengar penjelasan bahwa anjing menjilat wajah manusia karena perilaku tersebut sama dengan perilaku anak anjing terhadap induknya. Memang terdapat perilaku menjilat dalam interaksi sosial anjing, termasuk pada konteks anak anjing dan induknya. Namun, kita tidak boleh langsung menyimpulkan: anjing menjilat wajah manusia = ia menganggap manusia sebagai induknya. Hubungan anjing-manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar menggantikan hubungan induk-anak. Jadi, penjelasan tersebut terlalu sederhana jika digunakan untuk menjelaskan semua perilaku menjilat. Kalau Anjing Menjilat Wajah, Berarti Dia Sangat Sayang? Bisa menjadi bagian dari hubungan sosial yang positif, tetapi tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator kasih sayang. Hubungan yang baik antara anjing dan manusia dapat terlihat melalui banyak hal: Jadi, jangan mengukur kualitas hubungan hanya dari: berapa sering anjing menjilat wajah kita. Perhatikan Bahasa Tubuh Saat Menjilat Ini bagian yang paling penting. Jika anjing menjilat Anda, lihat juga: 🐕 Tubuh Rileks atau tegang? 👀 Mata Tatapannya lembut dan natural atau justru menghindar? 👂 Telinga Dalam posisi normal atau ditarik ke belakang? 🐾 Gerakan tubuh Mendekat dengan santai atau mencoba menjauh? 🧠 Konteks Apa yang baru saja terjadi? Apakah Anda sedang memeluknya? Apakah Anda sedang memegang makanannya? Apakah ada orang asing? Apakah ia sedang berada dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman? Semua informasi tersebut membantu kita memahami perilakunya. Jangan Memaksa Anjing Menjilat atau Mencium Wajah Ada satu prinsip penting: Interaksi harus bersifat dua arah. Kita mungkin menyukai ketika anjing menjilat wajah. Tetapi belum tentu anjing selalu nyaman jika wajahnya didekatkan ke wajah manusia. Begitu pula sebaliknya. Jika anjing menjauh, memalingkan kepala, menjadi kaku, atau menunjukkan tanda tidak nyaman ketika wajahnya didekatkan, jangan dipaksa. Kasih sayang tidak membutuhkan pemaksaan. Bagaimana dengan Anak-Anak? Bagian ini sangat penting. Anak-anak sering menganggap anjing sebagai teman bermain. Mereka mungkin ingin: Namun, interaksi anak dan anjing tetap perlu pengawasan orang dewasa. Jangan mengajarkan anak bahwa: “Kalau anjing menjilat berarti boleh dipeluk.” Sebaliknya, ajarkan anak untuk memperhatikan respons anjing. Jika anjing ingin menjauh: beri ruang. Jika anjing menunjukkan tanda tidak nyaman: hentikan interaksi. Ini bukan hanya soal keamanan anak. Ini juga tentang menghormati batas hewan. Apakah Aman Membiarkan Anjing Menjilat Wajah? Ini juga perlu diperhatikan dari sisi kesehatan. Mulut anjing bukan sesuatu yang dapat dianggap steril. Hewan peliharaan dapat membawa mikroorganisme yang berpotensi menyebabkan penyakit pada manusia, meskipun risiko pada orang sehat umumnya berbeda dengan risiko pada individu tertentu. Karena itu, terutama untuk kebersihan, sebaiknya hindari membiarkan anjing menjilat: Dan setelah berinteraksi dengan hewan, terutama sebelum makan, cuci tangan dengan baik. Jika seseorang memiliki kondisi kesehatan tertentu yang membuatnya lebih rentan terhadap infeksi, kehati-hatian tambahan diperlukan. Jadi, kita tidak perlu takut berlebihan terhadap anjing. Tetapi juga tidak perlu menganggap: “Air liur anjing pasti bersih.” Keduanya sama-sama tidak tepat. Bagaimana Jika Kita Tidak Suka Dijilat? Tidak masalah. Menjadi pet

Kesejahteraan Hewan Membutuhkan Sistem yang Berkelanjutan
(sumber gambar : https://unsplash.com/id/foto/dua-anjing-berkulit-putih-dan-cokelat-P8_RmeffU-w) Memenuhi kebutuhan hewan bukanlah pekerjaan satu kali. Kesejahteraan hewan perlu dijaga dan dievaluasi secara terus-menerus sepanjang hidup mereka. Kondisi hewan dapat berubah seiring bertambahnya usia, perubahan kesehatan, dinamika kelompok sosial, maupun perubahan lingkungan. Hewan yang sebelumnya aktif, misalnya, mungkin membutuhkan penyesuaian lingkungan ketika memasuki usia lanjut. Perubahan komposisi kelompok juga dapat mempengaruhi interaksi sosial dan perilaku hewan. Artinya, fasilitas dan program perawatan yang sebelumnya sesuai belum tentu akan selalu sesuai. Karena itu, dibutuhkan pencatatan, pemantauan, evaluasi, serta penyesuaian secara berkala. Observasi terhadap kondisi fisik dan perilaku hewan dapat membantu pengelola mengenali perubahan dan menentukan respons yang diperlukan. Banyak Pihak Berperan di Balik Kesejahteraan Hewan Kesejahteraan hewan juga tidak bergantung pada satu orang. Keeper memiliki peran penting karena berinteraksi dan mengamati hewan setiap hari. Dokter hewan berperan dalam pencegahan penyakit, pemeriksaan kesehatan, dan penanganan medis. Tenaga nutrisi membantu memastikan kebutuhan pakan sesuai dengan spesies dan kondisi individu hewan. Di luar itu, manajemen lembaga konservasi memiliki peran dalam memastikan tersedianya sumber daya, fasilitas, prosedur, serta tenaga yang diperlukan untuk mendukung perawatan hewan. Pemerintah, akademisi, organisasi kesejahteraan hewan, dan masyarakat juga dapat berkontribusi melalui regulasi, penelitian, edukasi, pengawasan, maupun peningkatan kesadaran publik. Dengan kata lain, menjaga kesejahteraan hewan membutuhkan sebuah sistem yang saling terhubung. Ketika Pengelolaan Bersinggungan dengan Kesejahteraan Hewan Sistem pengelolaan menjadi penting karena berbagai kebutuhan hewan mulai dari pakan, pelayanan kesehatan, enrichment, hingga pemeliharaan lingkungan. Itu semua membutuhkan sumber daya yang dikelola secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Inilah sebabnya isu pengelolaan lembaga konservasi juga dapat bersinggungan dengan pembicaraan mengenai animal welfare. Salah satu contoh yang saat ini menjadi perhatian adalah perkembangan kasus dugaan korupsi Kebun Binatang Surabaya. Animal Lawyer Indonesia membahas perkembangan kasus tersebut dari perspektif hukum, termasuk pentingnya mendalami kemungkinan dampaknya terhadap pemenuhan kesejahteraan hewan. Tentu, munculnya sebuah persoalan dalam pengelolaan tidak serta-merta menunjukkan bahwa kesejahteraan seluruh hewan di suatu lembaga terganggu. Kondisi setiap hewan tetap perlu dilihat berdasarkan indikator yang relevan, data, observasi, serta pemeriksaan oleh pihak yang memiliki kompetensi. Namun, kasus tersebut dapat menjadi pengingat bahwa pembicaraan mengenai kesejahteraan hewan tidak selalu berhenti pada apa yang terlihat oleh pengunjung. Di balik kandang, pakan, pelayanan kesehatan, dan enrichment terdapat sistem yang memungkinkan seluruh kebutuhan tersebut tersedia secara konsisten. Karena hewan yang berada di kebun binatang bergantung pada manusia untuk memenuhi sebagian besar kebutuhannya, kualitas pengelolaan menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga kualitas hidup mereka. Pada akhirnya, membangun kebun binatang yang berorientasi pada kesejahteraan hewan bukan hanya tentang menyediakan fasilitas yang baik. Dibutuhkan pula manusia, pengetahuan, sumber daya, evaluasi, dan sistem pengelolaan yang bekerja bersama agar kebutuhan hewan dapat terpenuhi secara berkelanjutan. References Animal welfare. (2021, March 23). WOAH – World Organisation for Animal Health. https://www.woah.org/en/what-we-do/animal-health-and-welfare/animal-welfare/ Indonesia, A. L. (2026, September 19). Perkembangan Kasus Dugaan Korupsi Kebun Binatang Surabaya oleh mantan Dirut: Ketika Dugaan Penyimpangan Anggaran Berpotensi pada Kesejahteraan Satwa. https://www.animallawyerindonesia.org/2026/09/perkembangan-kasus-dugaan-korupsi-kebun.html

Mengapa Kucing Menggerakkan Ekornya? Ternyata Bukan Sekadar Tanda Marah
“Kucingku Lagi Marah!” Pernah melihat kucing menggerakkan ekornya dengan cepat? Kita mungkin langsung berpikir: “Wah, dia sedang marah.” Apalagi jika ekornya bergerak-gerak ketika kita sedang mengelusnya. Tetapi, seperti halnya kibasan ekor pada anjing, gerakan ekor kucing tidak memiliki satu arti tunggal. Ekor merupakan salah satu bagian penting dari komunikasi tubuh kucing. Untuk memahami pesan di balik gerakan tersebut, kita perlu melihat: Dengan kata lain: Jangan membaca ekor kucing secara terpisah dari tubuhnya. 1. Ekor Kucing Adalah Bagian dari Bahasa Tubuh Kucing berkomunikasi melalui berbagai bentuk sinyal. Selain vokalisasi seperti meow, hiss, dan purr, kucing menggunakan: Karena itu, ekor dapat memberikan petunjuk mengenai keadaan kucing. Namun, interpretasinya harus dilakukan bersama tanda-tanda lainnya. 2. Ekor Tegak ke Atas: “Saya Nyaman” Salah satu posisi ekor yang sering kita lihat adalah ekor tegak ke atas ketika kucing berjalan mendekati manusia. Misalnya: Kucing melihat Anda. Ia berjalan mendekat. Ekornya tegak. Tubuhnya terlihat rileks. Kemudian ia menggosokkan tubuhnya ke kaki Anda. Dalam konteks seperti ini, posisi ekor tersebut dapat menjadi bagian dari perilaku sosial yang positif. Banyak kucing menggunakan posisi ekor tegak ketika melakukan interaksi sosial dengan individu yang mereka kenal. Ini juga sering terlihat ketika kucing menyapa manusia. Namun, sekali lagi: lihat keseluruhan tubuhnya. 3. Ekor Bergerak Cepat: Jangan Langsung Bilang “Marah” Ini salah satu perilaku yang paling sering disalahartikan. Anjing mengibaskan ekornya. Kucing juga menggerakkan ekornya. Tetapi pola dan maknanya tidak sama. Pada kucing, gerakan ekor yang semakin intens dapat muncul ketika tingkat arousal meningkat. Arousal adalah keadaan aktivasi atau kesiagaan tubuh. Kucing dapat berada dalam kondisi arousal tinggi karena berbagai alasan, termasuk: Karena itu: Ekor yang bergerak cepat tidak otomatis berarti “marah”. Pertanyaannya adalah: Apa yang sedang terjadi pada saat itu? 4. Ekor Menghentak atau Memukul-mukul Lantai Pernah melihat kucing duduk lalu ekornya bergerak kuat ke kanan dan kiri? Atau ekornya menghentak-hentak lantai? Ini merupakan sinyal yang perlu diperhatikan. Jika terjadi ketika kita sedang mengelusnya, misalnya, bisa jadi kucing mulai mengalami overstimulation atau ketidaknyamanan terhadap interaksi tersebut. Kucing mungkin belum pergi. Tetapi tubuhnya mulai memberikan sinyal: “Cukup.” Jika kita terus mengelus tanpa memperhatikan sinyal tersebut, kucing dapat meningkatkan responsnya. Karena itu, gerakan ekor dapat menjadi kesempatan bagi pet parent untuk berhenti sebelum situasi menjadi lebih buruk. 5. Ekor Mengembang: Ada Respons Emosional yang Kuat Pernah melihat kucing tiba-tiba terlihat jauh lebih besar? Bulu ekornya berdiri. Ekor menjadi mengembang. Tubuh mungkin juga tampak lebih besar. Ini dikenal sebagai piloerection. Perubahan tersebut dapat muncul dalam kondisi arousal yang tinggi, misalnya ketika kucing mengalami ketakutan atau menghadapi situasi yang dianggap mengancam. Tujuannya bukan berarti kucing sedang “berusaha terlihat lucu”. Secara biologis, perubahan tersebut dapat membuat tubuh terlihat lebih besar. Pesannya dapat kurang lebih: “Saya sedang sangat terpicu. Jangan mendekat.” 6. Ekor Rendah atau Terselip: Perhatikan Rasa Takut Posisi ekor yang rendah atau terselip di antara kaki dapat muncul ketika kucing merasa takut atau tidak aman. Tetapi sekali lagi, kita perlu melihat tanda lainnya. Misalnya: Jika beberapa tanda tersebut muncul bersamaan, kemungkinan besar kucing sedang mengalami kondisi emosional yang negatif dan membutuhkan ruang. 7. Ekor Tidak Selalu Mengatakan “Ya” atau “Tidak” Ini bagian yang penting. Bahasa tubuh kucing bukan kamus sederhana. Tidak ada aturan seperti: Ekor ke atas = bahagia. Ekor ke bawah = sedih. Ekor bergerak = marah. Realitasnya lebih kompleks. Posisi ekor merupakan salah satu informasi yang harus dikombinasikan dengan informasi lainnya. Misalnya: Situasi A Ekor tegak + tubuh rileks + mendekati manusia. Kemungkinan menunjukkan interaksi sosial yang positif. Situasi B Ekor tegak + tubuh kaku + telinga ke belakang. Situasinya berbeda. Situasi C Ekor mengembang + tubuh membesar + mendesis. Ini jelas membutuhkan kewaspadaan dan pemberian ruang. 8. Perhatikan Telinganya Jika ingin memahami ekor kucing, jangan lupa melihat telinganya. Telinga kucing dapat berubah posisi sesuai keadaan dan perhatian terhadap lingkungan. Telinga dalam posisi natural Dapat muncul ketika kucing berada dalam kondisi relatif tenang. Telinga bergerak ke samping atau belakang Perlu diperhatikan, terutama jika disertai tanda ketegangan lain. Telinga sangat menempel ke belakang Jika muncul bersama tubuh yang tegang, pupil membesar, atau respons defensif, ini merupakan tanda bahwa kucing sedang berada dalam kondisi yang membutuhkan ruang. 9. Mata Juga Memberikan Petunjuk Mata merupakan bagian penting dari ekspresi kucing. Perhatikan: Pupil dapat berubah karena kondisi cahaya, sehingga pupil besar tidak boleh otomatis diterjemahkan sebagai takut atau marah. Kita harus melihat kondisi pencahayaan dan bahasa tubuh lainnya. Ini contoh penting mengapa satu indikator saja tidak cukup. 10. Bagaimana Jika Ekor Bergerak Ketika Kucing Sedang Dielus? Ini adalah situasi yang sangat umum. Awalnya kucing menikmati elusan. Ia mendengkur. Kemudian beberapa menit kemudian: ekornya mulai bergerak. Apa yang harus dilakukan? Jangan langsung menganggap: “Dia masih suka.” Perhatikan perubahan lainnya. Apakah tubuhnya mulai tegang? Apakah telinganya berubah? Apakah ia berhenti mendekat? Apakah kulit punggungnya bergerak? Apakah ia mulai memalingkan kepala? Jika tanda-tanda ketidaknyamanan mulai muncul, berhenti atau kurangi interaksi. Dengan demikian, kita menghormati batas kucing sebelum ia merasa perlu meningkatkan responsnya. 11. Jangan Menunggu Sampai Kucing Mendesis Ini prinsip penting dalam interaksi dengan kucing. Manusia sering baru berhenti ketika kucing: mendesis. Padahal sebelum itu, kucing mungkin sudah memberikan banyak sinyal yang lebih halus. Misalnya: menjauh → memalingkan kepala → mengubah posisi telinga → menggerakkan ekor → tubuh menegang → mendesis. Urutan tersebut tidak selalu terjadi persis seperti itu pada setiap kucing. Namun, prinsipnya adalah: Semakin awal kita mengenali sinyal ketidaknyamanan, semakin mudah kita mencegah eskalasi. 12. Kesalahan Pet Parent yang Sering Terjadi ❌ “Ekor bergerak berarti kucing marah.” Terlalu sederhana. ❌ “Kalau dia masih diam, berarti dia menikmati elusan.” Belum tentu. ❌ “Kucing mendengkur berarti boleh terus dielus.” Tidak selalu. ❌ “Saya akan terus mengelus sampai dia pergi.” Sebaiknya jangan. Kita tidak perlu menunggu kucing sampai harus pergi atau menunjukkan respons defensif. ❌ “Kucing saya harus menerima semua sentuhan.” Tidak. Kucing juga memiliki preferensi dan batas interaksi. 13. Bagaimana Seharusnya Pet Parent Merespons? Gunakan prinsip sederhana: Observe → Pause → Respect Observe Amati bahasa tubuh kucing. Pause Jika muncul tanda ketidaknyamanan, berhenti sejenak. Respect Berikan kesempatan kepada kucing untuk memilih apakah ingin melanjutkan interaksi atau tidak. Pendekatan ini sederhana, tetapi sangat penting dalam membangun hubungan yang aman. 14. Menghormati