Author name: adm_awi

Domestic

Mengapa Kucing Mendengkur? Apakah Selalu Berarti Bahagia?

Mendengar Suara “Purr”, Kita Langsung Menganggap Kucing Bahagia Ada sesuatu yang khas ketika seekor kucing merasa nyaman di dekat kita. Ia naik ke pangkuan. Meringkuk. Kemudian terdengar suara: “rrrrrrrrr…” Sebagian besar orang langsung berpikir: “Dia bahagia.” Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah. Kucing memang sering mendengkur ketika merasa nyaman atau berada dalam interaksi yang menyenangkan. Tetapi ada satu hal penting yang perlu diketahui pet parent: Kucing juga dapat mendengkur dalam situasi lain. Artinya, suara purring tidak dapat diterjemahkan hanya dengan satu arti. Untuk memahami kucing, kita perlu melihat kapan ia mendengkur, apa yang sedang terjadi, serta bagaimana bahasa tubuhnya secara keseluruhan. 1. Apa Itu Purring? Purring atau suara mendengkur adalah salah satu bentuk vokalisasi yang sangat khas pada kucing. Suara ini biasanya berupa getaran berirama dengan frekuensi rendah yang muncul selama kucing bernapas. Yang menarik, kucing dapat mendengkur dalam berbagai situasi. Itulah sebabnya: purring ≠ otomatis bahagia. Kita perlu melihat konteks. 2. Kucing Mendengkur Ketika Merasa Nyaman Ini adalah situasi yang paling sering kita lihat. Misalnya: Kucing sedang berada di tempat favoritnya. Tubuhnya rileks. Matanya setengah terpejam. Ia menguleni selimut dengan kedua kaki depannya. Kemudian mulai mendengkur. Dalam konteks seperti ini, purring sangat mungkin menjadi bagian dari keadaan yang nyaman dan interaksi sosial yang positif. Kucing mungkin sedang menunjukkan bahwa ia berada dalam kondisi yang relatif santai. 3. Kucing Bisa Mendengkur Ketika Mendapat Perhatian Sebagian kucing mendengkur ketika dielus atau ketika berada dekat manusia yang mereka kenal. Misalnya saat: Jika pada saat yang sama tubuhnya rileks dan tidak menunjukkan tanda ketakutan atau ketegangan, dengkuran tersebut dapat menjadi bagian dari interaksi positif. Namun sekali lagi: jangan membaca suara tanpa melihat tubuhnya. 4. Tetapi Kucing Juga Bisa Mendengkur Ketika Mengalami Stres atau Tidak Nyaman Inilah bagian yang sering mengejutkan pet parent. Purring tidak selalu muncul dalam situasi yang menyenangkan. Kucing juga dapat menunjukkan perilaku mendengkur dalam situasi yang menimbulkan stres, ketakutan, atau ketidaknyamanan. Misalnya ketika: Karena itu, jika kucing berada di klinik hewan dan terdengar mendengkur, jangan langsung menyimpulkan: “Wah, dia nyaman di sini.” Konteksnya justru harus diperiksa lebih hati-hati. 5. Jadi, Bagaimana Kita Tahu Kucing Sedang Nyaman? Jangan hanya mendengarkan suaranya. Lihat tubuhnya. Gunakan beberapa indikator berikut. 🐱 Mata Kucing yang rileks dapat menunjukkan mata yang lebih lembut dan tidak terus-menerus memperlihatkan kewaspadaan tinggi. Slow blink juga sering muncul dalam interaksi sosial yang tenang. 👂 Telinga Perhatikan posisi telinga. Apakah berada pada posisi natural? Atau terus bergerak untuk memantau lingkungan? Telinga yang berubah ke arah samping atau belakang, terutama bersama tanda ketegangan lain, perlu diperhatikan. 🐾 Tubuh Apakah tubuhnya: rileks dan lentur? atau kaku dan tegang? 🐈 Ekor Perhatikan posisi dan gerakannya. Ekor yang bergerak cepat atau menghentak dapat menunjukkan peningkatan arousal atau ketidaknyamanan, tergantung konteks. 😺 Wajah Perhatikan perubahan ekspresi wajah secara keseluruhan. Kucing yang nyaman biasanya memiliki ekspresi yang berbeda dari kucing yang sedang mengalami ketakutan atau stres. 6. Jangan Menggunakan Satu Tanda untuk Menentukan Emosi Kucing Ini prinsip penting dalam memahami perilaku kucing. Misalnya: Purring + tubuh rileks + mata lembut + posisi nyaman berbeda dengan: Purring + tubuh kaku + telinga ke belakang + berusaha bersembunyi. Sama-sama mendengkur. Tetapi situasinya bisa sangat berbeda. Karena itu: Bahasa tubuh harus dibaca sebagai satu kesatuan. 7. Mengapa Kucing Bisa Mendengkur Saat Sakit? Pertanyaan ini sering muncul. Kita memang belum dapat mengatakan bahwa setiap kucing yang mendengkur sedang sakit. Namun, purring dapat muncul pada konteks yang tidak menyenangkan, sehingga suara tersebut tidak boleh digunakan sebagai indikator tunggal bahwa kucing sehat atau nyaman. Jika kucing yang biasanya aktif tiba-tiba berubah perilaku, misalnya: jangan berasumsi: “Tidak apa-apa, dia masih mendengkur.” Perubahan perilaku perlu diperhatikan. Jika ada dugaan sakit, pemeriksaan dokter hewan diperlukan. 8. Purring Bukan Alat Diagnosis Ini penting untuk ditegaskan. Kita tidak dapat menggunakan suara mendengkur untuk menentukan: “Kucing saya sehat.” atau: “Kucing saya sakit.” Purring bukan alat diagnosis. Diagnosis membutuhkan evaluasi yang lebih lengkap, termasuk riwayat, pemeriksaan fisik, dan bila diperlukan pemeriksaan penunjang oleh dokter hewan. Jadi, jangan menggunakan dengkuran sebagai satu-satunya indikator kesehatan. 9. Bagaimana dengan Kucing yang Tidak Pernah Mendengkur? Ini juga penting. Tidak semua kucing menunjukkan purring dengan intensitas yang sama. Ada kucing yang sangat mudah terdengar mendengkur. Ada yang suaranya sangat lembut. Ada pula yang jarang terlihat mendengkur. Karena itu: Kucing yang tidak mendengkur bukan berarti tidak bahagia. Kita kembali lagi pada prinsip utama: lihat keseluruhan perilaku. 10. Kesalahan Pet Parent yang Sering Terjadi ❌ “Dia mendengkur berarti pasti bahagia.” Terlalu sederhana. ❌ “Dia mendengkur berarti pasti sehat.” Tidak tepat. ❌ “Kalau kucing mendengkur, terus elus saja.” Belum tentu. Perhatikan apakah kucing memang menikmati interaksi tersebut. ❌ “Kucing yang diam berarti tenang.” Belum tentu. Kucing dapat menunjukkan stres dengan cara yang sangat halus. 11. Bagaimana Cara Mengelus Kucing dengan Lebih Baik? Daripada langsung menyentuh kucing, terutama kucing yang belum akrab dengan kita, berikan kesempatan kepada kucing untuk memilih berinteraksi. Perhatikan responsnya. Jika ia: interaksi dapat dilanjutkan secara lembut. Jika ia: berikan ruang. Tidak semua kucing ingin disentuh setiap saat. Dan itu normal. 12. Memahami Kucing Berarti Menghormati Pilihannya Kucing sering dianggap hewan yang “misterius”. Padahal mungkin bukan karena mereka tidak berkomunikasi. Mereka berkomunikasi dengan cara yang lebih halus. Perubahan kecil pada: dapat memberikan informasi tentang kondisi mereka. Tugas kita bukan memaksa mereka mengikuti cara komunikasi manusia. Tugas kita adalah belajar membaca cara mereka berkomunikasi. 13. Dari “Kucing Mendengkur” Menjadi “Apa yang Sedang Ia Rasakan?” Inilah perubahan cara pandang yang ingin dibangun melalui seri ini. Jangan berhenti pada: “Kucing saya mendengkur.” Tanyakan: “Dalam kondisi apa dia mendengkur?” Lalu lihat: Bagaimana posisi tubuhnya? Bagaimana telinganya? Bagaimana matanya? Apa yang terjadi sebelum ia mendengkur? Apakah ia mendekati kita atau justru sedang mencari perlindungan? Dengan begitu, kita tidak sekadar mengenali perilaku. Kita mulai memahami konteks di balik perilaku tersebut. Kesimpulan Apakah kucing mendengkur berarti bahagia? Bisa saja. Kucing sering mendengkur ketika berada dalam kondisi nyaman dan interaksi sosial yang positif. Namun, purring juga dapat muncul dalam situasi lain, sehingga tidak tepat menjadikan dengkuran sebagai satu-satunya indikator kebahagiaan, kenyamanan, atau kesehatan kucing. Cara terbaik memahami kucing adalah dengan melihat: vokalisasi + bahasa tubuh + konteks + perubahan dari perilaku normalnya. Karena satu

Domestic

Mengapa Kucing Suka Menggaruk Sofa? Bukan karena Kucing Sengaja Merusak Barang

Sofa Baru, Tiba-Tiba Jadi Korban Anda baru saja membeli sofa baru. Belum lama digunakan, tiba-tiba bagian sudutnya mulai penuh bekas cakaran. Kucing Anda melakukannya lagi. Lalu muncul pertanyaan yang sering muncul dari pet parent: “Kenapa sih kucing saya suka sekali menggaruk sofa? Padahal sudah dimarahi berkali-kali.” Masalahnya, dari sudut pandang kucing, sofa bukanlah “barang yang tidak boleh dirusak”. Bagi kucing, menggaruk merupakan perilaku alami dan penting. Jadi, persoalannya bukan sekadar bagaimana membuat kucing berhenti menggaruk. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: Mengapa kucing perlu menggaruk, dan bagaimana kita menyediakan tempat yang tepat untuk perilaku tersebut? Mitos: Kucing Menggaruk karena Nakal Salah satu kesalahpahaman yang paling umum adalah menganggap kucing sengaja merusak furnitur. Padahal, perilaku menggaruk memiliki beberapa fungsi. Kucing dapat menggaruk untuk: Dengan kata lain, menggaruk bukan perilaku “nakal”. Yang menjadi masalah adalah ketika kucing memilih benda yang tidak kita inginkan sebagai tempat menggaruk. Mengapa Kucing Suka Menggaruk? 1. Menggaruk adalah perilaku alami Menggaruk merupakan bagian dari repertoar perilaku normal kucing. Karena itu, menghilangkan kebutuhan menggaruk secara total bukanlah tujuan yang tepat. Yang lebih baik adalah mengarahkan perilaku tersebut ke tempat yang sesuai. Misalnya, menyediakan scratching post atau scratching board yang memang dirancang untuk digunakan kucing. 2. Menggaruk membantu peregangan tubuh Perhatikan ketika kucing menggaruk permukaan vertikal. Biasanya kucing akan: Gerakan tersebut bukan hanya berkaitan dengan kuku. Aktivitas ini juga memungkinkan kucing melakukan peregangan dan latihan gerak tubuh. Karena itu, scratching post yang cukup tinggi sehingga kucing dapat meregangkan tubuh sepenuhnya sering kali lebih menarik dibandingkan benda yang terlalu pendek. 3. Menggaruk juga merupakan bentuk komunikasi Ini bagian yang sering tidak diketahui pet parent. Ketika kucing menggaruk benda tertentu, ia tidak hanya meninggalkan bekas cakaran. Aktivitas tersebut dapat menghasilkan tanda visual sekaligus sinyal kimia. Kucing memiliki kelenjar aroma di area telapak dan kaki. Ketika melakukan scratching, kucing dapat meninggalkan informasi aroma pada lokasi tersebut. Itulah salah satu alasan mengapa kucing sering memilih lokasi tertentu untuk menggaruk. Jadi, sofa yang berada di ruang keluarga bukan selalu dipilih secara acak. Lokasi tersebut mungkin merupakan tempat yang strategis secara sosial dan lingkungan. 4. Mengapa Sofa Sering Menjadi Target? Ada beberapa karakteristik sofa yang membuatnya menarik bagi kucing. Teksturnya menarik Material sofa tertentu memberikan resistensi yang cukup ketika dicakar. Kucing mendapatkan sensasi fisik dari menarik cakarnya pada permukaan tersebut. Posisi sofa strategis Sofa biasanya berada di area yang sering digunakan manusia. Artinya, sofa memiliki nilai sosial dan lingkungan yang tinggi. Sofa sering memiliki permukaan vertikal Banyak kucing menyukai scratching dalam posisi tubuh tertentu, termasuk dengan kaki depan terentang pada permukaan vertikal. Kucing sudah belajar bahwa sofa “berfungsi” Jika kucing pernah mendapatkan pengalaman yang menyenangkan ketika menggaruk sofa, perilaku tersebut dapat terus berulang. Karena itu, menyediakan scratching post tetapi meletakkannya jauh dari area yang biasa digunakan kucing belum tentu efektif. Jangan Hanya Membeli Scratching Post Ini kesalahan yang cukup umum. Pet parent membeli scratching post baru. Kemudian diletakkan di sudut rumah. Kucing tetap menggaruk sofa. Lalu scratching post dianggap “tidak berguna”. Padahal bisa jadi masalahnya bukan pada kucing, tetapi pada desain dan penempatannya. Scratching facility perlu disesuaikan dengan preferensi kucing. Beberapa kucing lebih menyukai: Karena setiap kucing dapat memiliki preferensi berbeda, kita perlu melakukan observasi. Bagaimana Agar Kucing Mau Menggaruk di Tempat yang Tepat? 1. Letakkan scratching post dekat lokasi yang sering dicakar Jika kucing selalu menggaruk sudut sofa, jangan langsung meletakkan scratching post di ruangan lain. Cobalah menempatkannya dekat area tersebut. Setelah kucing mulai menggunakan scratching post secara konsisten, lokasinya dapat disesuaikan secara bertahap jika diperlukan. 2. Pilih ukuran yang memungkinkan kucing meregangkan tubuh Scratching post yang terlalu pendek mungkin tidak memberikan pengalaman yang sama dengan sofa. Pastikan struktur tersebut cukup stabil dan memungkinkan kucing melakukan gerakan scratching secara penuh. Kestabilan juga penting. Jika scratching post mudah roboh ketika digunakan, kucing dapat kehilangan minat terhadapnya. 3. Sediakan lebih dari satu pilihan Tidak ada salahnya menyediakan beberapa scratching surface dengan bentuk atau material berbeda. Misalnya: Kemudian amati mana yang paling sering digunakan. Jangan Menghukum Kucing Ketika Menggaruk Sofa Ketika melihat kucing menggaruk sofa, reaksi spontan sebagian orang adalah: “Jangan!” Kemudian kucing diusir atau dimarahi. Namun hukuman bukanlah cara yang ideal untuk menyelesaikan kebutuhan perilaku tersebut. Kucing tetap memiliki kebutuhan untuk menggaruk. Jika kebutuhan itu tidak diarahkan, kucing dapat mencari lokasi lain. Lebih buruk lagi, hukuman dapat membuat kucing merasa takut atau tidak nyaman terhadap manusia atau lingkungan tertentu. Pendekatan yang lebih baik adalah: cegah kerusakan → sediakan alternatif → arahkan → beri penguatan ketika alternatif digunakan. Bagaimana Jika Kucing Sudah Terlanjur Suka Sofa? Tidak perlu panik. Anda dapat mencoba pendekatan bertahap. Langkah 1 — Identifikasi lokasi favorit Perhatikan bagian sofa mana yang paling sering dicakar. Langkah 2 — Tempatkan scratching post di dekatnya Buat alternatif tersebut mudah ditemukan dan mudah diakses. Langkah 3 — Perhatikan jenis permukaan Jika kucing menyukai scratching pada permukaan vertikal, gunakan scratching post vertikal. Jika lebih menyukai permukaan horizontal, sediakan scratching board horizontal. Langkah 4 — Beri kesempatan kucing memilih Jangan memaksa kaki kucing untuk mencakar scratching post. Biarkan kucing mengeksplorasinya sendiri. Langkah 5 — Berikan penguatan positif Ketika kucing menggunakan scratching post, Anda dapat memberikan respons positif yang sesuai, misalnya perhatian atau reward yang disukai kucing. Tujuannya adalah membuat scratching post menjadi pilihan yang bernilai bagi kucing. Bagaimana dengan Catnip? Catnip terkadang digunakan untuk meningkatkan ketertarikan kucing terhadap scratching post. Namun respons terhadap catnip tidak sama pada semua kucing. Sebagian kucing menunjukkan respons yang kuat, sementara sebagian lainnya tidak menunjukkan respons yang berarti. Karena itu, catnip sebaiknya dipandang sebagai alat bantu, bukan solusi utama. Yang lebih penting adalah menyediakan scratching facility yang sesuai dengan preferensi kucing dan menempatkannya di lokasi strategis. Jangan Lupa Memotong Kuku dengan Benar Perawatan kuku juga merupakan bagian dari perawatan kucing. Namun memotong kuku bukan berarti kebutuhan scratching kucing menjadi hilang. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Pemotongan kuku merupakan bagian dari grooming dan perawatan. Sementara scratching merupakan perilaku alami yang juga berkaitan dengan gerakan tubuh dan komunikasi. Jadi, jangan berharap memotong kuku akan membuat kucing berhenti menggaruk. Kapan Perilaku Menggaruk Perlu Diperhatikan Lebih Serius? Menggaruk pada dasarnya merupakan perilaku normal. Namun perubahan perilaku yang muncul secara

Hewan Ternak

Meningkatkan Kesejahteraan Hewan Ternak

Oleh: Natalie Stewart, Co-Founder JAAN Sistem Kandang Baterai Bisakah Anda hidup dalam sebuah sangkar, tidak bisa bergerak, dikurung dengan sangat ekstrim, bersamaan dengan sisa-sisa orang lain yang sudah mati ? Tentunya, Anda tidak akan dapat bertahan hidup, tetapi ini adalah realita bagaimana jutaan ayam di industri telur dipaksa untuk hidup. Hampir semua dari 150 juta ayam petelur yang dipekerjakan dalam produksi telur komersial di Indonesia, menghabiskan seluruh hidup mereka terbatas dalam kandang kawat kecil atau bambu,yang disebut dengan “kandang baterai”. Kandang baterai dinilai sebagai salah satu bentuk pengurungan hewan paling kejam oleh para ahli kesejahteraan hewan. Didalam kandang ini, ayam-ayam hidup dalam kesengsaraan, dibawah tekanan dan frustasi yang konstan. Mereka tidak dapat berjalan bebas dan bahkan tidak dapat melebarkan sayap sepenuhnya. Ujung paruh mereka dipotong, tetapi mereka masih dapat mematuk satu sama lain sampai mati. Setiap kandang mengurung 5 hingga 10 ekor ayam. Kondisinya seringkali sangat menjijikkan.Banyak ayam yang akhirnya tidak bertahan hidup, dan mereka yang berhasil hidup dipaksa untuk tinggal dengan sisa-sisa mereka yang mati membusuk. Ayam dalam kandang baterai juga terus-menerus diberi antibiotik untuk mengendalikan penyakit, dan meningkatkan pertumbuhan dengan cepat. “Ayam adalah makhluk hidup yang dapat merasakan sakit, dan menaruh mereka dalam kungkungan sangkar yang kejam seumur hidup mereka, adalah perbuatan yang tidak dapat diterima!” Penelitian ilmiah dari para ahli terkenal telah membuktikan bahwa secara kognitif, emosional, dan sosial, kemampuan ayam sama rumitnya dengan mamalia lain. SISTEM – CAGE FREE Dalam peternakan cage-free, ayam hidup dalam kandang tanpa akses luar ruangan. Namun di dalamnya, setidaknya mereka dapat bergerak, bertengger, mematuk jerami atau pasir, dan memiliki akses kekotak-kotak sarang tempat mereka dapat bertelur. Fakta bahwa ayam-ayam ini dapat melakukan banyak perilaku alami mereka, secara signifikan mengurangi penderitaan mereka. Ayam dalam sistem cage-free tidak terus menerus diberikan antibiotik, dan bahkan sering kali khusus diberikan makanan vegetarian. FREE RANGE atau SISTEM ORGANIK Dalam sistem ini, ayam memiliki akses kererumputan di siang hari, dimana mereka dapat menikmati sinar matahari dan menghabiskan waktu mereka menggali tanah untuk mencari serangga dan makanan. Dimalam hari, mereka dapat tidur didalam ruang terlindung. Dalam kedua sistem ini, ayam hanya diberi pakan vegetarian, dan dalam sistem organik pakan harus bebas dari pestisida / bahan Kimia. Penggunaan antibiotik secara terus menerus tidak diperbolehkan dalam kedua sistem. MENINGKATNYA TINGKAT KEAMANAN PANGAN Telur kerap terkontaminasi oleh Salmonella, bakteri yang menyebabkan ribuan orang sakit hingga berisiko fatal setiap tahunnya, terutama pada anak-anak. Otoritas Keamanan Makanan Eropa telah melakukan penelitian skala besar dengan membandingkan tingkat kontaminasi Salmonella pada sistem kandang baterai versus sistem bebas kandang (cage-free). Hasil analisis menunjukkan bahwa potensi kontaminasi Salmonella Enteritidis 43% lebih rendah pada sistem bebas kandang tertutup dibanding kandang baterai. Sementara itu, pada produksi telur organik, risikonya 95% lebih rendah, dan pada sistem umbaran (free-range) peluangnya berkurang hingga 98%. Untuk jenis Salmonella Typhimurium, risikonya 77% lebih rendah pada sistem bebas kandang, serta 93% lebih rendah pada sistem organik dan umbaran. Adapun untuk serotipe Salmonella lainnya, peluang kontaminasi 96% lebih rendah di sistem lumbung, 98% lebih rendah pada ternak organik, dan 99% lebih rendah pada unggas yang hidup bebas. Artinya, peluang kontaminasi pada peternakan yang membatasi pergerakan ayam di kandang baterai setidaknya 25 kali lipat lebih besar. Analisis Otoritas Keamanan Makanan Eropa menyimpulkan: “Pemeliharaan kawanan unggas dalam kandang baterai jauh lebih memungkinkan terkontaminasi Salmonella.” Isu penting lainnya adalah penggunaan obat-obatan. Dalam sistem pengurungan intensif atau peternakan pabrik, pemberian antibiotik secara rutin sangat umum dilakukan meski hewan tidak sedang sakit. Praktik yang tidak bertanggung jawab ini terbukti memicu munculnya superbakteri yang kebal antibiotik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memperingatkan bahwa jika penggunaan antibiotik yang tidak bijak ini terus berlanjut, kita akan memasuki era pasca-antibiotik di mana penyakit ringan bisa berujung fatal. DAMPAK BURUK KE LINGKUNGAN YANG LEBIH RENDAH Di peternakan alami—seperti sistem bebas kandang, umbaran, dan organik—hewan ternak umumnya hanya diberikan pakan berbasis nabati (vegetarian). Sebaliknya, peternakan pabrik sering memanfaatkan tepung ikan sebagai pakan utama. Penelitian membuktikan bahwa dampak lingkungan dari peternakan telur dapat ditekan dengan beralih ke pakan vegetarian. Peneliti dari University of British Columbia menyimpulkan bahwa penggunaan pakan organik dan vegetarian pada ayam petelur mampu mengurangi emisi CO2 hingga lebih dari 50%. Penggunaan tepung ikan juga memicu sorotan global. Menurut PBB, sekitar 15 juta ton ikan liar ditangkap setiap tahunnya untuk dijadikan tepung pakan, yang sebagian besar dialokasikan untuk industri peternakan ayam. PBB juga mencatat bahwa lebih dari 70% wilayah perikanan dunia telah mengalami eksploitasi berlebihan (overfishing). Beberapa spesies ikan bahkan telah mengalami kepunahan secara komersial, dan banyak spesies lain yang berada di ambang batas serupa. Mengingat ancaman perubahan iklim dan krisis laut yang kian nyata, inilah saatnya mendukung peternakan ramah lingkungan yang mengutamakan pakan vegetarian. BAGAIMANA ANDA BISA MEMBANTU? Anda dapat berkontribusi dengan memilih telur dari peternakan bebas kandang. Saat ini, telah banyak produsen telur di Indonesia yang beralih dari sistem kandang baterai ke sistem cage-free. Dengan membeli produk mereka, Anda turut mendukung standar hidup dan kesejahteraan yang lebih baik bagi ayam petelur.

Domestic

Protokol Hewan Masuk (Intake) Untuk Program Foster Anak Kucing

Oleh: Drh. Mikeu Paujiah, Dipl. Montessori Protokol Hewan Masuk (Intake) Untuk Program Foster Anak Kucing. Unduh protokol Intake anak kucing, berdasarkan protokol yang diterapkan oleh ASPCA Los Angeles Kitten Foster Program. Sesuaikan protokol ini dengan program foster shelter Anda, tentunya dibawah pengawasan dari dokter hewan agar program ini dapat berhasil. Karena anak kucing yang terlantar sangat rentan, penting sekali shelter yang memiliki program foster anak kucing memiliki protokol Intake yang menyeluruh dan konsisten. Informasi yang meliputi: Sumber: American Society for the Prevention of Cruelty to Animals, Intake Protocol for Kitten Foster Programs, https://www.aspcapro.org/resource, open access: 11 Oct 2023. Unduh disini.

Manajemen Shelter

Tips Membuat Shelter Menjadi Tempat Yang Menyenangkan Untuk Hewan

Oleh: Drh. Mikeu Paujiah, Dipl. Montessori Shelter merupakan tempat penampungan sementara bagi hewan. Hewan yang berada di shelter mempunyai latar belakang yang berbeda, bisa jadi, hewan itu hewan liar yang tidak sengaja tertabrak, ketika masuk shelter, mungkin hewan itu akan mengalami stress karena perubahan lingkungan yang tadinya bebas menjadi terbatas. Memang, dari sisi lain, pengelola shelter berharap akan membuat hewan tersebut pulih, tapi tahukah kamu, bahwa pulih disini, tak sekedar hewan itu bebas dari rasa sakit, tapi secara mental dia merasa aman, nyaman, itulah yang disebut sejahtera (5 domain). Oleh karena itu, membuat hewan itu merasa senang secara fisik, mental dan jiwa, pengelola shelter sebaiknya mempunyai beberapa strategi agar hewan dapat merasa kerasan dan lebih bahagia di shelter. ADA BEBERAPA TIPS YANG PENULIS KUTIP DARI THE HUMANE SOCIETY OF THE UNITED STATE: Sumber: Making the shelter a happier place for animals. Brenda Griffin, DVM, 2016. Humane Pro Society Of The United State

Manajemen Shelter

Pedoman Standar Perawatan di Tempat Penampungan Hewan dan Daftar Periksa Pedoman ASV

Association of Shelter Veterinarians (ASV) telah menerbitkan edisi kedua Pedoman Standar Perawatan di Tempat Penampungan Hewan, pedoman ini dapat membantu staf yang bekerja di tempat penampungan. Dalam pedoman terbaru ini, terdapat beberapa standar mengenai kebutuhan kandang (housing) pemeliharaan, medis, dan kebutuhan perilaku hewan-hewan yang sedang dirawat. Guidelines for Standards of Care in Animal Shelters ASV juga telah membuat alat daftar periksa tambahan untuk membantu tempat penampungan mengukur diri mereka berdasarkan item yang direkomendasikan (atau tidak direkomendasikan) dalam pedoman edisi tahun 2022. Daftar periksa ini akan membantu shelter untuk menentukan prioritas dan melakukan advokasi terhadap perubahan yang diperlukan, ketika hal tersebut teridentifikasi. 2022 ASV Guidelines Checklist of Key Statements Sumber: American Society for the Prevention of Cruelty to Animals, (2020) ASV Guidelines & Shelter. Checklists. https://www.aspcapro.org/resource/asv-guidelines-shelter-checklists

Satwa liar

Pemeliharaan Satwa Primata Untuk Kepentingan Komersil Ditinjau Melalui Animal Welfare

Oleh: Atian Muhammad Zaky Fahrian Hal Pertama yang akan saya bahas adalah banyaknya beberapa konten kreator yang ramai memelihara satwa liar di berbagai sosial media. Salah satunya, yang banyak dipelihara dikalangan konten kreator adalah primata yaitu jenis Macaca fascicularis atau sering kita sebut monyet ekor panjang. Sebetulnya isi dari konten yang para kreator angkat melalui sosial media ini sederhana, mereka seolah menunjukan sisi kepedulian mereka terhadap satwa primata serta mempublikasikan tingkah lucu dan menggemaskan dari satwa tersebut. Selain itu mereka juga menunjukkan betapa mudahnya satwa ini dipelihara. Namun yang harus diketahui oleh masyarakat khususnya para kreator ini adalah kabar terbaru IUCN. Menurut IUCN jenis primata dengan nama ilmiah Macaca fascicularis ini telah di tetapkan sebagai satwa endangered atau terancam punah. Jika terus dibiarkan jumlah satwa ini akan semakin berkurang di habitatnya bahkan mungkin akan mengalami kepunahan. Tak sedikit para kreator ini memperlihatkan primata peliharaannya dengan umur yang sangat muda atau masih bayi (anakan). Meskipun mereka memperlakukan selayaknya seorang bayi, akan tetapi ketika primata ini mulai menginjak usia dewasa dan masuk masa kawin mereka akan menunjukan sifat liar dan teritorialnya, hal bisa membahayakan pemilik atau manusia di sekitar atau sebaliknya karena mereka sudah biasa dipelihara oleh manusia satwa ini akan sulit beradaptasi dengan habitat aslinya di alam liar atau bahkan tidak mampu untuk survive. Lalu apa dampak yang dapat terjadi ketika para Kreator ini mengunggah video mereka? Ya, munculnya keinginan masyarakat untuk menjadikan primata ini sebagai hewan peliharaan dan akan terjadinya perburuan besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan pasar. Selain itu bukan hal yang mudah untuk memelihara dan memenuhi kesejahteraan satwa khususnya primata, mereka butuh asupan makanan dan nutrisi yang cukup, tempat atau kandang yang digunakan pun tidak bisa sembarangan, karena pada dasarnya mereka harus bisa mengekspresikan diri mereka sebagaimana mereka hidup di alam liar, atapun ketika mereka sakit penanganan serta pengobatan yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan yang paling penting adalah mereka makhluk sosial yang hidup berkelompok yang jika dipelihara dan dibiarkan menyendiri akan mengganggu psikologisnya. Hal paling menakutkan adalah mereka termasuk satwa yang berpotensi membawa penyakit zoonosis. Penyakit zoonosis adalah penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Menurut penelitian yang sudah banyak dilakukan ilmuwan, hewan primata dapat membawa penyakit atau virus yang sangat berbahaya dan memiliki tingkat kematian sekitar 80 persen pada manusia. Sekuat apapun hukum yang dibuat pemerintah akan sia-sia saja dan tidak berdampak apapun selain punahnya suatu fauna dan ekosistem jika tidak timbulnya kesadaran pada diri sendiri. “PRIMATA BUKAN HEWAN PELIHARAAN SEPERTI ANJING DAN KUCING, MEREKA HEWAN LIAR DAN TIDAK SEPANTASNYA BERADA BERDAMPINGAN DENGAN MANUSIA”. Akhir dari tulisan ini saya mengajak masyarakat untuk bersama-sama tidak menjadikan primata atau satwa lainnya sebagai hewan peliharaan. Mereka akan lebih indah dan lestari di alam pada habitatnya sendiri tanpa harus menggembor-gemborkan “Salam lestari” pada akun sosial media yang sebetulnya hanya untuk memperkaya diri tapi tidak untuk kesejahteraan satwa yang mereka pelihara. Ditulis dengan mengacu pada referensi dari : https://www.iucnredlist.org/fr/search/stats?query=Macaca%20fascicularis&searchType=species Artikel ini ditulis oleh Atian Muhammad Zaky Fahrian A.Md. Vet. Seorang mahasiswan Kedokteran Hewan yang dilahirkan di Tasikmalaya pada 10 November 1999. Menyukai segala hal yang berkaitan dengan hewan dan bercita cita mengabdikan diri pada terwujudnya animal welfare di Indonesia.

Manajemen Shelter

Mengapa Kucing Bisa Stres di Shelter?

Masuk shelter merupakan perubahan besar bagi seekor kucing. Ia harus beradaptasi dengan: Guideline ABCD menjelaskan bahwa stres pada kucing dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, termasuk suara, bau, suhu, manusia atau hewan yang tidak dikenal, lingkungan baru, dan handling yang tidak terampil. Kepadatan Dapat Memperburuk Kondisi Shelter menghadapi dilema klasik: Semakin banyak kucing yang diselamatkan, semakin besar kebutuhan terhadap ruang, tenaga, waktu, dan sumber daya. Jika jumlah kucing melampaui kemampuan shelter untuk memberikan perawatan yang memadai, risiko masalah kesehatan dan kesejahteraan dapat meningkat. Konsep Capacity for Care (C4C) menjadi penting karena kapasitas shelter bukan sekadar jumlah kandang yang tersedia, tetapi kemampuan keseluruhan organisasi untuk merawat hewan secara layak. Wagner et al. (2018) memasukkan capacity for care sebagai salah satu konsep penting dalam desain dan pengelolaan perumahan kucing di shelter. Kucing Membutuhkan Safe Place Kucing membutuhkan tempat yang membuatnya merasa aman. Dalam pedoman AAFP dan ISFM, penyediaan safe place merupakan salah satu dari lima pilar lingkungan kucing yang sehat. Lima pilar tersebut meliputi: (Ellis et al., 2013). Hiding Box Bukan Sekadar Aksesori Kotak persembunyian sering dianggap sebagai aksesori tambahan. Padahal, bagi kucing yang takut atau belum beradaptasi, hiding place dapat menjadi bagian penting dari lingkungan. Konsep ini sejalan dengan pedoman lingkungan kucing AAFP/ISFM yang menempatkan safe place sebagai kebutuhan fundamental bagi kesejahteraan kucing (Ellis et al., 2013). Handling Bisa Membuat Kucing Semakin Stres Cara manusia berinteraksi dengan kucing juga penting. Handling yang kasar, terlalu cepat, atau tidak memperhatikan respons kucing dapat meningkatkan ketakutan. Sebaliknya, interaksi manusia yang positif, konsisten, dan dapat diprediksi merupakan salah satu bagian dari lingkungan yang sehat bagi kucing (Ellis et al., 2013). Karena itu, relawan shelter perlu memahami: tidak semua kucing ingin disentuh dengan cara yang sama. Jangan Memaksa Kucing untuk Bersosialisasi Tujuan shelter bukan membuat semua kucing menjadi kucing yang senang digendong. Tujuannya adalah menciptakan kondisi agar setiap individu dapat merasa aman dan menunjukkan perilaku normalnya. Pedoman AAFP/ISFM menekankan bahwa kebutuhan lingkungan kucing harus mempertimbangkan karakteristik dan respons individual terhadap lingkungan serta interaksi sosial (Ellis et al., 2013). Enrichment Tidak Harus Mahal Enrichment dapat berupa: Wagner et al. (2018) juga menekankan bahwa desain housing shelter perlu mendukung kesehatan, kesejahteraan, dan peluang rehoming kucing. Jadi, enrichment bukan sekadar membuat kucing “sibuk”. Enrichment adalah bagian dari kesejahteraan. Shelter Ramah Kucing Tidak Berarti Shelter yang Menampung Paling Banyak Ukuran keberhasilan shelter seharusnya tidak hanya: “Berapa banyak hewan yang berhasil diselamatkan?” Tetapi juga: “Apakah selama berada di shelter hewan tersebut mendapatkan kesehatan, keamanan, kenyamanan, dan kesempatan untuk kembali ke kehidupan yang lebih baik?” Inilah alasan mengapa shelter medicine dan animal welfare harus berjalan bersama. Kesimpulan Kucing stres di shelter bukan masalah sepele. Stres berkaitan dengan pengalaman lingkungan, interaksi sosial, kesehatan, dan perilaku kucing. Karena itu, mengurangi stres harus dilakukan melalui pendekatan menyeluruh: lingkungan yang aman + kepadatan terkendali + enrichment + handling yang tepat + interaksi positif + manajemen kesehatan. Shelter yang baik bukan hanya tempat menyelamatkan kucing. Shelter harus menjadi tempat di mana kucing merasa cukup aman untuk pulih dan memiliki kesempatan mendapatkan rumah baru. Referensi Artikel 3 — APA 7th Ellis, S. L. H., Rodan, I., Carney, H. C., Heath, S., Rochlitz, I., Shearburn, L. D., Sundahl, E., & Westropp, J. (2013). AAFP and ISFM feline environmental needs guidelines. Journal of Feline Medicine and Surgery, 15(3), 219–230. https://doi.org/10.1177/1098612X13477537 Möstl, K., Egberink, H., Addie, D., Frymus, T., Boucraut-Baralon, C., Truyen, U., Hartmann, K., Lutz, H., Gruffydd-Jones, T., Radford, A. D., Thiry, E., Belák, S., & Horzinek, M. C. (2013). Prevention of infectious diseases in cat shelters: ABCD guidelines. Journal of Feline Medicine and Surgery, 15(7), 546–554. https://doi.org/10.1177/1098612X13489210 Wagner, D., Hurley, K., & Stavisky, J. (2018). Shelter housing for cats: Principles of design for health, welfare and rehoming. Journal of Feline Medicine and Surgery, 20(7), 635–642. https://doi.org/10.1177/1098612X18781388

Manajemen Shelter

Kandang Terlihat Bersih Belum Tentu Bebas Penyakit

Kandang yang terlihat bersih secara visual belum tentu bebas dari agen penyakit. Dalam shelter, kebersihan memiliki tujuan yang lebih besar: mengurangi risiko transmisi penyakit dari satu kucing ke kucing lainnya. Karena itu, proses pembersihan harus menjadi bagian dari sistem biosecurity. European ABCD ( The European Advisory Board for Cat Diseases )merekomendasikan agar kandang dan area penampungan dibersihkan secara rutin dan proses pembersihan dilakukan secara sistematis untuk mengurangi risiko kontaminasi silang. Cleaning Berbeda dengan Disinfection Ini merupakan konsep yang sangat penting. Cleaning bertujuan menghilangkan kotoran dan bahan organik seperti: Sedangkan disinfection bertujuan mengurangi atau menonaktifkan mikroorganisme setelah proses pembersihan. Karena itu, urutan dasarnya adalah: Cleaning → Disinfection Bukan langsung menyemprotkan disinfektan pada permukaan yang masih penuh bahan organik. ABCD secara khusus menekankan pentingnya menghilangkan bahan organik sebelum proses disinfeksi. Pilih Disinfektan Berdasarkan Patogen Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap semua disinfektan memiliki efektivitas yang sama. Padahal, efektivitas suatu bahan bergantung pada jenis mikroorganisme, konsentrasi, waktu kontak, keberadaan bahan organik, dan cara penggunaannya. ABCD menekankan bahwa produk disinfeksi perlu memiliki efikasi yang sesuai terhadap agen infeksi yang menjadi target. Karena itu: jangan memilih disinfektan hanya berdasarkan merek atau harga. Litter Box Juga Harus Menjadi Perhatian Litter box merupakan salah satu titik penting dalam pengendalian penyakit, khususnya penyakit yang dapat menyebar melalui jalur fekal-oral. Pengelolaan litter yang baik mencakup: Untuk shelter dengan banyak kucing, prosedur sederhana seperti ini dapat memberikan dampak besar terhadap biosecurity. Mangkuk Makanan dan Air Peralatan makan dan minum juga harus dibersihkan secara rutin. ABCD merekomendasikan agar peralatan tersebut dibersihkan dan didisinfeksi sesuai prosedur, kemudian dibilas dan dikeringkan sebelum digunakan kembali. Hal ini penting karena mangkuk merupakan benda yang bersentuhan langsung dengan mulut dan makanan kucing. Hindari Cross-Contamination Bayangkan seorang petugas selesai membersihkan kandang kucing yang mengalami infeksi. Kemudian ia menggunakan alat yang sama untuk membersihkan kandang kucing sehat tanpa prosedur dekontaminasi. Secara tidak sadar, proses cleaning tersebut justru dapat menjadi jalur perpindahan penyakit. Karena itu, pengelolaan shelter perlu mempertimbangkan pemisahan peralatan berdasarkan zona atau kelompok kucing. Desain Shelter Juga Mempengaruhi Kebersihan Kebersihan tidak hanya ditentukan oleh petugas. Desain kandang juga berpengaruh. Wagner et al. (2018) menjelaskan bahwa desain perumahan kucing di shelter harus mempertimbangkan kesehatan, kesejahteraan, dan keberhasilan rehoming. Desain yang tepat juga perlu mendukung proses cleaning dan manajemen sehari-hari. Artinya, ketika membangun atau merenovasi shelter, jangan hanya bertanya: “Berapa banyak kucing yang bisa kita tampung?” Tetapi juga: “Seberapa mudah area ini dibersihkan, didesinfeksi, dan dikelola?” Kesimpulan Sanitasi shelter bukan pekerjaan tambahan. Sanitasi adalah bagian dari pelayanan kesehatan hewan. Shelter yang memiliki sistem cleaning dan disinfection yang baik akan lebih siap mencegah terjadinya penularan penyakit. Referensi Artikel  Möstl, K., Egberink, H., Addie, D., Frymus, T., Boucraut-Baralon, C., Truyen, U., Hartmann, K., Lutz, H., Gruffydd-Jones, T., Radford, A. D., Thiry, E., Belák, S., & Horzinek, M. C. (2013). Prevention of infectious diseases in cat shelters: ABCD guidelines. Journal of Feline Medicine and Surgery, 15(7), 546–554. https://doi.org/10.1177/1098612X13489210 Wagner, D., Hurley, K., & Stavisky, J. (2018). Shelter housing for cats: Principles of design for health, welfare and rehoming. Journal of Feline Medicine and Surgery, 20(7), 635–642. https://doi.org/10.1177/1098612X18781388

Manajemen Shelter

Penyakit Kucing di Shelter: Mengapa Mudah Menyebar?

drh.Mikeu Paujiah, M.M Shelter memiliki tantangan kesehatan yang berbeda dibandingkan rumah tangga dengan satu atau dua kucing. Banyak kucing dengan kondisi kesehatan, usia, riwayat vaksinasi, dan pengalaman hidup yang berbeda berada dalam satu sistem pengelolaan. Situasi tersebut membuat penyakit infeksi lebih sulit dikendalikan. European ABCD ( The European Advisory Board for Cat Diseases ) menjelaskan bahwa lingkungan shelter merupakan lingkungan biologis yang relatif tidak stabil dan penyakit infeksi dapat menyebar dengan cepat ketika terjadi transmisi berulang dalam populasi yang padat. Karena itu, kesehatan kucing di shelter tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan. Pencegahan harus menjadi bagian dari sistem pengelolaan shelter. Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai Beberapa penyakit infeksi yang menjadi perhatian dalam populasi kucing antara lain: Feline Calicivirus Feline calicivirus atau FCV merupakan salah satu agen penyebab penyakit saluran pernapasan dan mulut pada kucing. FCV dapat menyebar melalui kontak langsung maupun tidak langsung sehingga lingkungan dan peralatan yang digunakan bersama perlu menjadi perhatian dalam pengendalian penyakit (Möstl et al., 2013). Feline Herpesvirus Feline herpesvirus atau FHV-1 juga merupakan salah satu agen penting penyakit saluran pernapasan kucing. Salah satu hal yang menarik adalah hubungan antara stres dan reaktivasi infeksi. Karena itu, pengendalian penyakit di shelter tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan stres dan lingkungan kucing (Möstl et al., 2013). Feline Panleukopenia Feline panleukopenia merupakan penyakit yang sangat penting dalam manajemen kesehatan shelter. ABCD menempatkan feline panleukopenia sebagai salah satu penyakit yang membutuhkan perhatian khusus dalam pengendalian penyakit infeksi di shelter karena virus penyebabnya relatif tahan terhadap lingkungan dan dapat menyebar secara tidak langsung (Möstl et al., 2013). Feline Coronavirus Feline coronavirus terutama berkaitan dengan transmisi fekal-oral. Karena itu, pengelolaan litter box, feses, peralatan, dan kebersihan lingkungan menjadi bagian penting dalam pencegahannya (Möstl et al., 2013). Kucing Baru Jangan Langsung Dicampur Salah satu prinsip penting dalam manajemen shelter adalah memisahkan kucing berdasarkan status kesehatan dan risiko penyakit. Kucing yang baru masuk dapat membawa agen infeksi meskipun belum menunjukkan tanda klinis. Karena itu, shelter membutuhkan sistem quarantine dan isolation. Menurut guideline ABCD, pengelolaan kucing di shelter perlu mempertimbangkan pemisahan kelompok serta penerapan prinsip barrier nursing untuk mengurangi kemungkinan penularan penyakit antar kelompok. Petugas Juga Bisa Menjadi Jalur Penularan Penyakit tidak selalu berpindah langsung dari kucing ke kucing. Tangan manusia, pakaian, sepatu, alat kebersihan, litter scoop, mangkuk, kandang, dan berbagai peralatan dapat berperan dalam transmisi tidak langsung. Karena itu, shelter perlu memiliki prosedur: Ini merupakan bagian dari biosecurity shelter. Vaksinasi Bukan Satu-Satunya Jawaban Vaksinasi merupakan komponen penting dalam pencegahan penyakit infeksi, tetapi tidak berdiri sendiri. Program kesehatan shelter perlu menggabungkan: vaksinasi + karantina + isolasi + higiene + sanitasi + pengelolaan kepadatan + monitoring kesehatan. Pendekatan komprehensif seperti ini merupakan inti rekomendasi ABCD untuk pencegahan penyakit infeksi pada shelter kucing (Möstl et al., 2013). Kesimpulan Penyakit kucing di shelter bukan hanya persoalan medis. Ia merupakan persoalan manajemen populasi dan sistem pencegahan penyakit. Shelter yang sehat bukan sekadar memiliki dokter hewan untuk mengobati kucing sakit. Shelter yang sehat memiliki sistem yang berusaha mencegah kucing sehat menjadi sakit. Referensi Artikel 1 — APA 7th Möstl, K., Egberink, H., Addie, D., Frymus, T., Boucraut-Baralon, C., Truyen, U., Hartmann, K., Lutz, H., Gruffydd-Jones, T., Radford, A. D., Thiry, E., Belák, S., & Horzinek, M. C. (2013). Prevention of infectious diseases in cat shelters: ABCD guidelines. Journal of Feline Medicine and Surgery, 15(7), 546–554. https://doi.org/10.1177/1098612X13489210

Scroll to Top