Oleh: Natalie Stewart, Co-Founder JAAN
Sistem Kandang Baterai

Bisakah Anda hidup dalam sebuah sangkar, tidak bisa bergerak, dikurung dengan sangat ekstrim, bersamaan dengan sisa-sisa orang lain yang sudah mati ? Tentunya, Anda tidak akan dapat bertahan hidup, tetapi ini adalah realita bagaimana jutaan ayam di industri telur dipaksa untuk hidup.
Hampir semua dari 150 juta ayam petelur yang dipekerjakan dalam produksi telur komersial di Indonesia, menghabiskan seluruh hidup mereka terbatas dalam kandang kawat kecil atau bambu,yang disebut dengan “kandang baterai”. Kandang baterai dinilai sebagai salah satu bentuk pengurungan hewan paling kejam oleh para ahli kesejahteraan hewan.
Didalam kandang ini, ayam-ayam hidup dalam kesengsaraan, dibawah tekanan dan frustasi yang konstan. Mereka tidak dapat berjalan bebas dan bahkan tidak dapat melebarkan sayap sepenuhnya. Ujung paruh mereka dipotong, tetapi mereka masih dapat mematuk satu sama lain sampai mati.
Setiap kandang mengurung 5 hingga 10 ekor ayam. Kondisinya seringkali sangat menjijikkan.Banyak ayam yang akhirnya tidak bertahan hidup, dan mereka yang berhasil hidup dipaksa untuk tinggal dengan sisa-sisa mereka yang mati membusuk. Ayam dalam kandang baterai juga terus-menerus diberi antibiotik untuk mengendalikan penyakit, dan meningkatkan pertumbuhan dengan cepat.


“Ayam adalah makhluk hidup yang dapat merasakan sakit, dan menaruh mereka dalam kungkungan sangkar yang kejam seumur hidup mereka, adalah perbuatan yang tidak dapat diterima!”
Penelitian ilmiah dari para ahli terkenal telah membuktikan bahwa secara kognitif, emosional, dan sosial, kemampuan ayam sama rumitnya dengan mamalia lain.
SISTEM – CAGE FREE

Dalam peternakan cage-free, ayam hidup dalam kandang tanpa akses luar ruangan. Namun di dalamnya, setidaknya mereka dapat bergerak, bertengger, mematuk jerami atau pasir, dan memiliki akses kekotak-kotak sarang tempat mereka dapat bertelur.
Fakta bahwa ayam-ayam ini dapat melakukan banyak perilaku alami mereka, secara signifikan mengurangi penderitaan mereka. Ayam dalam sistem cage-free tidak terus menerus diberikan antibiotik, dan bahkan sering kali khusus diberikan makanan vegetarian.
FREE RANGE atau SISTEM ORGANIK

Dalam sistem ini, ayam memiliki akses kererumputan di siang hari, dimana mereka dapat menikmati sinar matahari dan menghabiskan waktu mereka menggali tanah untuk mencari serangga dan makanan. Dimalam hari, mereka dapat tidur didalam ruang terlindung. Dalam kedua sistem ini, ayam hanya diberi pakan vegetarian, dan dalam sistem organik pakan harus bebas dari pestisida / bahan Kimia. Penggunaan antibiotik secara terus menerus tidak diperbolehkan dalam kedua sistem.
MENINGKATNYA TINGKAT KEAMANAN PANGAN
Telur kerap terkontaminasi oleh Salmonella, bakteri yang menyebabkan ribuan orang sakit hingga berisiko fatal setiap tahunnya, terutama pada anak-anak. Otoritas Keamanan Makanan Eropa telah melakukan penelitian skala besar dengan membandingkan tingkat kontaminasi Salmonella pada sistem kandang baterai versus sistem bebas kandang (cage-free).
Hasil analisis menunjukkan bahwa potensi kontaminasi Salmonella Enteritidis 43% lebih rendah pada sistem bebas kandang tertutup dibanding kandang baterai. Sementara itu, pada produksi telur organik, risikonya 95% lebih rendah, dan pada sistem umbaran (free-range) peluangnya berkurang hingga 98%.
Untuk jenis Salmonella Typhimurium, risikonya 77% lebih rendah pada sistem bebas kandang, serta 93% lebih rendah pada sistem organik dan umbaran. Adapun untuk serotipe Salmonella lainnya, peluang kontaminasi 96% lebih rendah di sistem lumbung, 98% lebih rendah pada ternak organik, dan 99% lebih rendah pada unggas yang hidup bebas.
Artinya, peluang kontaminasi pada peternakan yang membatasi pergerakan ayam di kandang baterai setidaknya 25 kali lipat lebih besar. Analisis Otoritas Keamanan Makanan Eropa menyimpulkan: “Pemeliharaan kawanan unggas dalam kandang baterai jauh lebih memungkinkan terkontaminasi Salmonella.”
Isu penting lainnya adalah penggunaan obat-obatan. Dalam sistem pengurungan intensif atau peternakan pabrik, pemberian antibiotik secara rutin sangat umum dilakukan meski hewan tidak sedang sakit. Praktik yang tidak bertanggung jawab ini terbukti memicu munculnya superbakteri yang kebal antibiotik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memperingatkan bahwa jika penggunaan antibiotik yang tidak bijak ini terus berlanjut, kita akan memasuki era pasca-antibiotik di mana penyakit ringan bisa berujung fatal.
DAMPAK BURUK KE LINGKUNGAN YANG LEBIH RENDAH
Di peternakan alami—seperti sistem bebas kandang, umbaran, dan organik—hewan ternak umumnya hanya diberikan pakan berbasis nabati (vegetarian). Sebaliknya, peternakan pabrik sering memanfaatkan tepung ikan sebagai pakan utama. Penelitian membuktikan bahwa dampak lingkungan dari peternakan telur dapat ditekan dengan beralih ke pakan vegetarian. Peneliti dari University of British Columbia menyimpulkan bahwa penggunaan pakan organik dan vegetarian pada ayam petelur mampu mengurangi emisi CO2 hingga lebih dari 50%.
Penggunaan tepung ikan juga memicu sorotan global. Menurut PBB, sekitar 15 juta ton ikan liar ditangkap setiap tahunnya untuk dijadikan tepung pakan, yang sebagian besar dialokasikan untuk industri peternakan ayam. PBB juga mencatat bahwa lebih dari 70% wilayah perikanan dunia telah mengalami eksploitasi berlebihan (overfishing).
Beberapa spesies ikan bahkan telah mengalami kepunahan secara komersial, dan banyak spesies lain yang berada di ambang batas serupa. Mengingat ancaman perubahan iklim dan krisis laut yang kian nyata, inilah saatnya mendukung peternakan ramah lingkungan yang mengutamakan pakan vegetarian.
BAGAIMANA ANDA BISA MEMBANTU?
Anda dapat berkontribusi dengan memilih telur dari peternakan bebas kandang. Saat ini, telah banyak produsen telur di Indonesia yang beralih dari sistem kandang baterai ke sistem cage-free. Dengan membeli produk mereka, Anda turut mendukung standar hidup dan kesejahteraan yang lebih baik bagi ayam petelur.

